21 tahun aku hidup. Dan nggak ada satu tahun pun terlewatkan
tanpa Tuhan kasih pelajaran berharga buat aku. Bisa lewat sesuatu yang
menyenangkan, bisa juga yang bikin sedih dan capek, like, “God, enough..” Tapi
nyatanya Tuhan nggak pernah berhenti kasih pelajaran. Adaa aja sesuatu yang
unpredictable yang Tuhan kasih. Suka becanda emang. Tapi ya balik lagi. Toh
pada akhirnya selalu ada hal baik yang bisa dipetik. Dan kali ini, Tuhan banyak
ngajarin (kali ini dengan mendalam) tentang ekspektasi. Bukan kata yang asing
buat aku. Sering digunakan, tapi nggak pernah dapetin maknanya sampe sedalem ini.
Ber-ekspektasi, sesuatu yang seringkali kita ga sadar
ngelakuinnya. Beruntung kalau sebanding dengan realita, sangat berpotensi bikin
kecewa kalau yang terjadi justru sebaliknya.
Aku pernah mempersoalkan apa yang Tuhan berikan dalam
hidupku. Atau bisa jadi sering. Jelas aku punya ekspektasi yang baik untuk
hidupku. Aku pengen nilai ku selalu bagus, semua kegiatanku lancar, semua orang
menyenangkan dan baik ke aku, nggak pengen punya masalah, hidup rukun, bahagia,
sehat sentosa. Namanya juga manusia, mintanya yang enak-enak aja. Tapi
nyatanya? Hidup nggak semulus itu, bray! Ini bumi, bukan surga.
Aku sering ngrasa kecewa. Kenapa hidupku begini, kenapa
begitu? “Maksud panjengenan niki nopo to, Gusti?” Terus nangis. Ngrasa kayak
Tuhan nggak adil, atau Tuhan nggak sayang lagi, pokoknya su’udzon aja sama
Tuhan. Kayak Tuhan nggak ada benernya (kemudian istighfar banyak-banyak..). Terus
aku mikir, kira-kira kenapa ya aku mudah kecewa? Beruntungnya, Tuhan tanggung
jawab. Njuk langsung dijawab karo Tuhan.
Penyebab mendasar kenapa kita kecewa kalau sesuatu berjalan
tidak seperti yang kita harapkan adalah karena kita menyisipkan ekspektasi di
dalamnya.
Kenapa aku begitu kecewa ketika aku gagal, ketika ada orang
yang menyakiti, ketika hidup rasanya sulit dilalui? Karena aku berekspektasi,
kemudian merasa kecewa ketika realita tidak sesuai dengan ekspektasi.
Kita bisa dekat dengan seseorang. Berbagi ini dan itu,
bercerita ini dan itu, saling mencurahkan isi hati satu sama lain. Merasa
nyaman, dan tanpa sadar kita berekspektasi bahwa orang ini akan selalu menjadi
baik pada kita. Mulailah kita menaruh kepercayaan pada orang lain, merasa yakin
sudah saling mengenal dan memahami satu sama lain. Tapi seketika orang ini
berbuat tidak seperti yang kita harapkan, maka kecewalah kita. Bahkan tanpa
kita sadari, bukan orang lain yang membuat kita kecewa, tapi ekspektasi yang
kita ciptakan sendiri, sadar atau tidak.
Kita nggak bisa bikin orang melakukan apa yang kita mau.
Kita nggak bisa maksain keadaan jadi seperti apa yang pinginin. Sekalipun kita
sudah berusaha, apapun itu usahanya. Kita tetep nggak bisa mastiin semua akan
berjalan sesuai yang kita harapkan. We can’t control people to love, like,
appreciate, understand, accept and be nice to us. We can’t control them to do
what we want. We can’t control circumstances either. But, good news is: it
doesn’t matter.
Susah memang untuk tidak berekspektasi, karena bahkan kita
berekspektasi tanpa kita sadari. Dan sesakit itu rasanya kalo kenyataan nggak sesuai
dengan ekspektasi. I do agree that i was wrong to put any expectations to
people and circumstances.
Ini adalah salah satu proses menarik dalam hidupku, dan aku
benar-benar sedang berusaha untuk menikmatinya. Menikmati sakitnya, bahagianya,
naik-turunnya. Belajar untuk lebih menerima, bersyukur, dan tutup telinga untuk
hal-hal yang memang sebaiknya tidak didengar, pun menutup mata untuk tidak
melihat hal-hal yang sebaiknya tidak dilihat. Belajar bahwa kita nggak akan bisa
memastikan baik-buruknya orang. Belajar sabar, take it easy, and dont give a
f*ck untuk hal-hal yang memang sudah seharusnya ditinggalkan. Yang jahat,
biarin aja jahat. Ya mungkin dia emang gitu adanya. Don't put any effort to make
it right if it’s unworthy. Dan aku mulai belajar untuk peduli hanya pada
hal-hal yang memang layak untuk dipedulikan.
Aku lega seenggaknya aku masih manusia, yang berproses dan
berusaha untuk menjadi lebih baik. Pelajaran itu selalu datang di waktu dan
orang yang tepat. Belum tentu Tuhan kasih pelajaran yang sama untuk setiap
orang. Lagi-lagi tergantung kita memaknainya. Mungkin itu kenapa Tuhan nyuruh
kita buat baca, iqra’. ‘Baca’ yang Tuhan kasih, ‘baca’ apa yang pengen Tuhan
sampein dari setiap kejadian yang kita alami. That’s why He gives us an amazing
brain and heart, mind and feeling. Untuk selalu mengambil pelajaran, untuk
tidak jatuh ke lubang yang sama.
May Allah gives us strenght iman and guide us always. Semoga
kalau belok, cepat diluruskan. Semoga hati yang sempit, segera dilapangkan.
Aamiin..
Yogyakarta, 5 April 2017,
Ditulis saat pikiran sedang jernih.
Comments
Post a Comment