Aku punya alasan kenapa setelah selesai 31 Hari Menulis blog ini jadi dianggurin lagi. Selain emang karena aku nggak punya waktu buat nulis (atau mungkin aku yang ga pernah nyisain waktu buat nulis, atau karena aku malas nulis, dan aku merasa malu buat nulis karena sejauh ini tulisanku di blog ini cuma tulisan ringan (yang mungkin malah kebanyakan isinya curhat). Blog ini nggak punya tema. Nggak punya identitas, kayak blog Evita Nuh atau blog Mbak Icuk (salah satu peserta 31HM). Pengen seperti mereka, mikir enaknya blog ini mau aku bawa kemana. Kelamaan mikir, jadinya malah nggak nulis sama sekali. Tapi malam ini aku nggak peduli. Aku mau nulis apa yang aku mau. Urusan tema belakangan. Yang pasti malam ini aku pengen nulis.
Iya, aku lagi banyak pikiran. Saking banyaknya sampe kecer semua. Otakku yang kecer. Banyak event, banyak tugas kuliah, nggak fokus. Setiap hari bangun dan berharap hari itu bisa cepat dilalui. Tapi kata teman, "Nggak papa, berarti Tuhan lagi naikin kualitas kita". Seneng banyak kegiatan? Nggak juga. Akhir-akhir ini malah sedih. Sedih karena nggak punya waktu buat orang lain yang kita sayang. Sedih karena nggak bisa selalu ada buat mereka. Sedih dibilang sok sibuk. Sedih, jarang "nyapa" diri sendiri. Dan malam ini aku lebih sedih.
20 tahun. Sekarang aku tau gimana perasaan orang-orang yang menginjak usia 20 tahun. Sudah 20 tahun loh. Sudah kepala 2. Sudah ngapain aja? Ini pertanyaan yang selalu ada setiap tahun. Kayak orang merugi. Jujur aku memang belum ngapa-ngapain, sejauh ini. Aku cuma ngintil ke orang. Ikut event ini-itu, jadi panitia ini-itu. Ngikut aja. Capek juga lama-lama. Pengen bisa memanusiakan diri sendiri.
Tentang ulang tahun. Dari kecil sampe aku Lulus SD, cuma sekali ulang tahun ku dirayain pake birthday cake. Tapi setelah itu, sampe usia 20 tahun ini, Allah nggak pernah lupa kasih aku birthday cake, yang Allah kasih lewat orang-orang disekitarku. Aku bahagia tiap kali tanggal 8 November. Karena tiap tanggal ini, dan beberapa tanggal sesudahnya, selalu, Allah selalu nunjukkin kasih sayang-Nya yang lebih-lebih sama aku. Temen-temen pada ngucapin, kasih doa yang baik-baik, kasih hadiah, kasih surprise, macem-macem. Dan selalu, momen ini selalu bikin aku nangis. Aku nggak sebaik itu, aku bukan malaikat. Tapi Allah kasih aku orang-orang yang berhati malaikat.
Aku sering jahat sama orang. Aku bukan orang baik. Aku cuma bisa berusaha buat jadi baik. Tapi lihat, di setiap hari ulang tahunku, mereka semua nunjukkin kebaikkannya masing-masing. Mereka notice aku. Mereka sayang sama aku. Mereka peduli. Ada yang nggak pernah absen buat ngucapin di jam dini hari. Ada yang selalu ingat tanpa perlu lihat notification di Facebook. Ada yang jauh-jauh hari udah nyiapin kado buat aku. Tapi aku-nya yang nggak tau diri. Mereka ulang tahun aku lupa. mereka ulang tahun, aku nggak ada kasih kado. Kurang jahat apa coba aku? Tapi mereka selalu baik. Selalu.
Sesibuk apa sih Shif, sampe kamu nggak bisa kayak mereka ke kamu?
Sibuk banget po, Shif?
Sibuk? Banget?
Ya Allah..
"Shifa kapan sih nggak sibuk? :')"
ini kata-kata temenku di chat roomnya sama temenku yang lain.
Sedih bacanya. Apalagi tadi, temen-temen bela-belain nunggu aku selesai rapat buat ngerayain ulang tahunku. Tadi juga, beberapa jam yang lalu, aku ketiduran. Tepar, dari beberapa hari yang lalu tidur diatas jam 2 dini hari. Bangun-bangun udah ada belasan misscall dari temen yang ternyata dari tadi udah nungguin di depan kos, cuma mau ngasihin kado. Dibela-belain. Aku? tidur pules.
Ya Allah..
Sedih rasanya kalau keinget gimana baiknya orang-orang sama aku tapi aku nggak bisa bales apa-apa. Sedih rasanya ketika Allah begitu seringnya nunjukkin kasih sayang-Nya, tapi sering kali aku nggak bersyukur. Ke Allah cuma butuhnya aja. Padahal Allah selalu ada buat aku. Nggak usah nunggu aku butuh. Nggak usah nunggu aku ngrengek-ngerek minta ini-itu. Allah ada, selalu ada buat aku. Sesibuk apa pun aku. Siapa yang gerakin hati orang-orang yang baik sama aku itu, kalau bukan Allah? Jadi siapa sebenernya yang dalang dari semua surprise kebahagiaan di kehidupan ini? Siapa yang lebih aku kecewain sebenernya, kalau bukan Allah? Manusia macam apa aku ini?
Tahun-tahun yang lalu cukup banyak kasih aku pelajaran. Sudah cukup kasih aku jawaban sebenarnya buat apa aku ada di dunia. Apa yang harus aku lakuin. Sudah cukup sering disentil sama Allah. Sudah cukup. Sudah 20 tahun. Dari dulu motto hidupku adalah menjadi orang yang bermanfaat. Tapi ternyata aku salah mengimplementasikannya. Bermanfaat untuk siapa? Bagaimana cara menjadi manusia yang benar-benar memberi manfaat? Nggak usah jauh-jauh, bermanfaat saja dulu sama diri sendiri, sama orang-orang terdekat. Baru bisa bermanfaat sama orang-orang yang lebih massif.
Terimakasih,
untuk semua yang selalu ada tanpa diminta kehadirannya. Untuk semua yang bersedia menolong tanpa diminta pertolongan. Untuk semua yang selalu memberi bahagia tanpa mengharap dibahagiakan. Untuk semua yang sudah berkorban tanpa butuh imbalan. Untuk semua yang selalu mengingatkan tanpa kenal lelah.
Terimakasih banyak..
Alhamdulillahi rabbil alamin..
Terimakasih, Allah..
Untuk kesempatan hidup yang diberikan. Untuk waktu yang selalu Kau sediakan. Untuk semua kebahagiaan yang tiada kurang Kau berikan. Semoga tidak ada lagi penyesalan di tahun ini. Semoga bisa banyak memberi kebahagiaan dan manfaat buat siapapun.
Bimbinglah untuk mendewasa, ya Allah..
Titip perasaan kasih dan cintaku untuk orang-orang yang sudah baik kepadaku, Ya Allah. Semoga selalu Kau beri mereka kasih sayang-Mu yang tiada tara. Semoga nyenyak tidur mereka malam ini dalam dekap hangat kasih-Mu..
Segala yang kupunya adalah milik-Mu, ya Rabb. Segala usaha hanya untuk-Mu.
Untuk mengingat-Mu, mencintai-Mu, selalu dan selamanya..
Iya, aku lagi banyak pikiran. Saking banyaknya sampe kecer semua. Otakku yang kecer. Banyak event, banyak tugas kuliah, nggak fokus. Setiap hari bangun dan berharap hari itu bisa cepat dilalui. Tapi kata teman, "Nggak papa, berarti Tuhan lagi naikin kualitas kita". Seneng banyak kegiatan? Nggak juga. Akhir-akhir ini malah sedih. Sedih karena nggak punya waktu buat orang lain yang kita sayang. Sedih karena nggak bisa selalu ada buat mereka. Sedih dibilang sok sibuk. Sedih, jarang "nyapa" diri sendiri. Dan malam ini aku lebih sedih.
20 tahun. Sekarang aku tau gimana perasaan orang-orang yang menginjak usia 20 tahun. Sudah 20 tahun loh. Sudah kepala 2. Sudah ngapain aja? Ini pertanyaan yang selalu ada setiap tahun. Kayak orang merugi. Jujur aku memang belum ngapa-ngapain, sejauh ini. Aku cuma ngintil ke orang. Ikut event ini-itu, jadi panitia ini-itu. Ngikut aja. Capek juga lama-lama. Pengen bisa memanusiakan diri sendiri.
Tentang ulang tahun. Dari kecil sampe aku Lulus SD, cuma sekali ulang tahun ku dirayain pake birthday cake. Tapi setelah itu, sampe usia 20 tahun ini, Allah nggak pernah lupa kasih aku birthday cake, yang Allah kasih lewat orang-orang disekitarku. Aku bahagia tiap kali tanggal 8 November. Karena tiap tanggal ini, dan beberapa tanggal sesudahnya, selalu, Allah selalu nunjukkin kasih sayang-Nya yang lebih-lebih sama aku. Temen-temen pada ngucapin, kasih doa yang baik-baik, kasih hadiah, kasih surprise, macem-macem. Dan selalu, momen ini selalu bikin aku nangis. Aku nggak sebaik itu, aku bukan malaikat. Tapi Allah kasih aku orang-orang yang berhati malaikat.
Aku sering jahat sama orang. Aku bukan orang baik. Aku cuma bisa berusaha buat jadi baik. Tapi lihat, di setiap hari ulang tahunku, mereka semua nunjukkin kebaikkannya masing-masing. Mereka notice aku. Mereka sayang sama aku. Mereka peduli. Ada yang nggak pernah absen buat ngucapin di jam dini hari. Ada yang selalu ingat tanpa perlu lihat notification di Facebook. Ada yang jauh-jauh hari udah nyiapin kado buat aku. Tapi aku-nya yang nggak tau diri. Mereka ulang tahun aku lupa. mereka ulang tahun, aku nggak ada kasih kado. Kurang jahat apa coba aku? Tapi mereka selalu baik. Selalu.
Sesibuk apa sih Shif, sampe kamu nggak bisa kayak mereka ke kamu?
Sibuk banget po, Shif?
Sibuk? Banget?
Ya Allah..
"Shifa kapan sih nggak sibuk? :')"
ini kata-kata temenku di chat roomnya sama temenku yang lain.
Sedih bacanya. Apalagi tadi, temen-temen bela-belain nunggu aku selesai rapat buat ngerayain ulang tahunku. Tadi juga, beberapa jam yang lalu, aku ketiduran. Tepar, dari beberapa hari yang lalu tidur diatas jam 2 dini hari. Bangun-bangun udah ada belasan misscall dari temen yang ternyata dari tadi udah nungguin di depan kos, cuma mau ngasihin kado. Dibela-belain. Aku? tidur pules.
Ya Allah..
Sedih rasanya kalau keinget gimana baiknya orang-orang sama aku tapi aku nggak bisa bales apa-apa. Sedih rasanya ketika Allah begitu seringnya nunjukkin kasih sayang-Nya, tapi sering kali aku nggak bersyukur. Ke Allah cuma butuhnya aja. Padahal Allah selalu ada buat aku. Nggak usah nunggu aku butuh. Nggak usah nunggu aku ngrengek-ngerek minta ini-itu. Allah ada, selalu ada buat aku. Sesibuk apa pun aku. Siapa yang gerakin hati orang-orang yang baik sama aku itu, kalau bukan Allah? Jadi siapa sebenernya yang dalang dari semua surprise kebahagiaan di kehidupan ini? Siapa yang lebih aku kecewain sebenernya, kalau bukan Allah? Manusia macam apa aku ini?
Tahun-tahun yang lalu cukup banyak kasih aku pelajaran. Sudah cukup kasih aku jawaban sebenarnya buat apa aku ada di dunia. Apa yang harus aku lakuin. Sudah cukup sering disentil sama Allah. Sudah cukup. Sudah 20 tahun. Dari dulu motto hidupku adalah menjadi orang yang bermanfaat. Tapi ternyata aku salah mengimplementasikannya. Bermanfaat untuk siapa? Bagaimana cara menjadi manusia yang benar-benar memberi manfaat? Nggak usah jauh-jauh, bermanfaat saja dulu sama diri sendiri, sama orang-orang terdekat. Baru bisa bermanfaat sama orang-orang yang lebih massif.
Terimakasih,
untuk semua yang selalu ada tanpa diminta kehadirannya. Untuk semua yang bersedia menolong tanpa diminta pertolongan. Untuk semua yang selalu memberi bahagia tanpa mengharap dibahagiakan. Untuk semua yang sudah berkorban tanpa butuh imbalan. Untuk semua yang selalu mengingatkan tanpa kenal lelah.
Terimakasih banyak..
Alhamdulillahi rabbil alamin..
Terimakasih, Allah..
Untuk kesempatan hidup yang diberikan. Untuk waktu yang selalu Kau sediakan. Untuk semua kebahagiaan yang tiada kurang Kau berikan. Semoga tidak ada lagi penyesalan di tahun ini. Semoga bisa banyak memberi kebahagiaan dan manfaat buat siapapun.
Bimbinglah untuk mendewasa, ya Allah..
Titip perasaan kasih dan cintaku untuk orang-orang yang sudah baik kepadaku, Ya Allah. Semoga selalu Kau beri mereka kasih sayang-Mu yang tiada tara. Semoga nyenyak tidur mereka malam ini dalam dekap hangat kasih-Mu..
Segala yang kupunya adalah milik-Mu, ya Rabb. Segala usaha hanya untuk-Mu.
Untuk mengingat-Mu, mencintai-Mu, selalu dan selamanya..
Comments
Post a Comment