Kata orang, jika waktu terasa begitu cepat berlalu, itu artinya kamu menikmati proses berjalannya waktu. Ya, tak terasa ajang 31HariMenulis sudah berakhir. Tak terasa sebentar lagi Ramadhan menyusul pergi. Tak terasa sudah harus bayar UKT lagi. Dan tak terasa sebentar lagi aku akan memasuki tahun keduaku sebagai warga rantau sekaligus mahasiswa semester 3. Anggap saja aku menikmati proses berjalannya waktu demi waktu ini. Seperti halnya sedang berkendara sembari menikmati pemandangan yg kulewati sepanjang jalan. Sampai suatu ketika seseorang membuatku berhenti sejenak, memarkir kendaraanku di pinggir jalan, hanya sekedar untuk mendengarkan petuahnya tentang apa yang akan aku temui dipersimpangan jalan nanti.
Beliau adalah ayah sahabatku. Setiap kali pulang ke kampung halaman, selalu ku sempatkan untuk berkunjung ke rumahnya. Tak jarang beliau mengajakku dalam pembicaraan 4 mata. Menasehatiku ini-itu. Bahkan beliau sempat memintaku untuk tidak merantau, karena mengkhawatirkanku. Ya, beliau sudah menganggapku seperti anaknya sendiri. Dan malam itu, beliau kembali hadir sebagai sosok 'ayah' bagi anak gadisnya.
"Shifa, apa yang berbeda dari pertengkaran di rumah dengan pertengkaran di luar rumah?"
Pertanyaan pertamanya langsung membuatku menduga-duga, apa yang sedang beliau pikirkan? Aku tidak sedang bertengkar dengan siapapun. Mengapa bertanya demikian?
"Mmm... subjek dengan siapa kita bertengkar?" jawabku menebak seadanya.
"Tentu, tapi ada faktor lain yg lebih penting. Kamu tau apa?"
Aku menggeleng.
"Kedamaian. Kalau kamu bertengkar di luar rumah, kamu masih bisa mendapatkan kedamaian di dalam rumah. Tapi kalau di dalam rumahmu sendiri tidak ada kedamaian, lantas kemana kamu harus pergi mencarinya? Tidak ada yang bisa mengalahkan kedamaian di dalam rumah."
Aku tersenyum, kemudian mengangguk meng-iya-kan. Sampai detik itu aku masih tak henti bertanya-tanya kemana arah pembicaraan ini bermuara. Keluargaku baik-baik saja, semua seperti biasanya. Ah, sudahlah, kuikuti saja dulu alurnya.
"Jadi nak, om cuma pesen, kamu kan sekarang sudah dewasa, sebentar lagi kamu yang akan menghidupi dirimu sendiri. Sebentar lagi kamu akan menikah. Jadi sudah waktunya kamu belajar dari sekarang untuk menciptakan kedamaian itu di keluargamu nanti. Kamu bisa masak, bisa menjadi ibu yg baik, damailah suami dan anak-anakmu. Iya to?" kemudian beliau tertawa ringan.
Got it.
Beliau benar. Semakin bertambah umurmu, semakin besar tanggung jawabmu, dan hidup semakin mengharuskanmu mendewasa. Hidup menuntutmu untuk bekerja, membangun keluarga, memiliki anak, dan banyak hal lainnya. Yang harus kulakukan sebagai seorang perempuan? Tentu saja menyiapkan peranku sebaik-baiknya sebagai seorang istri, seorang ibu, seorang yang memiliki arti bagi lingkungan hidupkuAkan menjadi apa aku 3 tahun kemudian? 10 tahun kemudian? 20 tahun kemudian? Who knows? Lagi-lagi itu adalah hak Tuhan untuk merahasiakannya. Karena manusia hanya dapat merencanakan dan berusaha, Tuhan lah yang memiliki kuasa untuk memutuskan. Hidup harus terus berjalan. Kendaraanku harus terus melaju. Hingga pada saat nanti, aku harus kembali memarkir kendaraanku, melihat kebelakang, memastikan sejauh apa aku melaju. Menyaksikan waktu yang telah berlalu. Kemudian kembali memasang strategi untuk melanjutkan perjalanan yang entah kapan dan dimana ia berujung.
Beliau adalah ayah sahabatku. Setiap kali pulang ke kampung halaman, selalu ku sempatkan untuk berkunjung ke rumahnya. Tak jarang beliau mengajakku dalam pembicaraan 4 mata. Menasehatiku ini-itu. Bahkan beliau sempat memintaku untuk tidak merantau, karena mengkhawatirkanku. Ya, beliau sudah menganggapku seperti anaknya sendiri. Dan malam itu, beliau kembali hadir sebagai sosok 'ayah' bagi anak gadisnya.
"Shifa, apa yang berbeda dari pertengkaran di rumah dengan pertengkaran di luar rumah?"
Pertanyaan pertamanya langsung membuatku menduga-duga, apa yang sedang beliau pikirkan? Aku tidak sedang bertengkar dengan siapapun. Mengapa bertanya demikian?
"Mmm... subjek dengan siapa kita bertengkar?" jawabku menebak seadanya.
"Tentu, tapi ada faktor lain yg lebih penting. Kamu tau apa?"
Aku menggeleng.
"Kedamaian. Kalau kamu bertengkar di luar rumah, kamu masih bisa mendapatkan kedamaian di dalam rumah. Tapi kalau di dalam rumahmu sendiri tidak ada kedamaian, lantas kemana kamu harus pergi mencarinya? Tidak ada yang bisa mengalahkan kedamaian di dalam rumah."
Aku tersenyum, kemudian mengangguk meng-iya-kan. Sampai detik itu aku masih tak henti bertanya-tanya kemana arah pembicaraan ini bermuara. Keluargaku baik-baik saja, semua seperti biasanya. Ah, sudahlah, kuikuti saja dulu alurnya.
"Jadi nak, om cuma pesen, kamu kan sekarang sudah dewasa, sebentar lagi kamu yang akan menghidupi dirimu sendiri. Sebentar lagi kamu akan menikah. Jadi sudah waktunya kamu belajar dari sekarang untuk menciptakan kedamaian itu di keluargamu nanti. Kamu bisa masak, bisa menjadi ibu yg baik, damailah suami dan anak-anakmu. Iya to?" kemudian beliau tertawa ringan.
Got it.
Beliau benar. Semakin bertambah umurmu, semakin besar tanggung jawabmu, dan hidup semakin mengharuskanmu mendewasa. Hidup menuntutmu untuk bekerja, membangun keluarga, memiliki anak, dan banyak hal lainnya. Yang harus kulakukan sebagai seorang perempuan? Tentu saja menyiapkan peranku sebaik-baiknya sebagai seorang istri, seorang ibu, seorang yang memiliki arti bagi lingkungan hidupkuAkan menjadi apa aku 3 tahun kemudian? 10 tahun kemudian? 20 tahun kemudian? Who knows? Lagi-lagi itu adalah hak Tuhan untuk merahasiakannya. Karena manusia hanya dapat merencanakan dan berusaha, Tuhan lah yang memiliki kuasa untuk memutuskan. Hidup harus terus berjalan. Kendaraanku harus terus melaju. Hingga pada saat nanti, aku harus kembali memarkir kendaraanku, melihat kebelakang, memastikan sejauh apa aku melaju. Menyaksikan waktu yang telah berlalu. Kemudian kembali memasang strategi untuk melanjutkan perjalanan yang entah kapan dan dimana ia berujung.
Comments
Post a Comment