Aku tidak pernah merencanakan ini sebelumnya, tapi rupanya Tuhan masih menghendaki kedekatan kita. Obrolan kita semakin sering, entah berdiskusi tentang sesuatu, bercerita tentang kegiatan di kampus, atau sekedar mengingatkan waktu sholat. Aku ingat akhirnya kita membuat kesepakatan untuk memulai kebiasaan baik. Tidur pukul 11 malam, bangun jam 3, sholat tahajud, sholat dhuha sebelum berangkat ke kampus, dan memberi jatah mengeluh dalam seminggu. Ah, lucu sekali rasanya!
Kita saling tau kedekatan ini membawa sesuatu dari hati-hati kita. Banyak momen yang seolah membuat kita merasa alam pun tau kita 'klik'. Ingat film filosofi kopi yang kita tonton tempo hari? Kita saling tertawa membelakangi mendengar si aktor berkata "Kita ini bagai otak sama hati, Bro. Aku otak, kamu hati. Kita ini saling melengkapi."
Kau tau? Kaulah yang mengajariku bahwa ketidakpastian itu pasti. Kita saling sepakat untuk tidak menjalin hubungan seperti mereka. Penjelasanmu yang kemudian membawaku pada konsep "jarak" dan ketidakpastian. Tentang "chapter" yang kita buat. Tentang komitmen yang kita bangun. Tentang mimpi-mimpi dan rencana yang kita amini bersama. Sampai tidak ada satupun dari kita yang berani berucap kata-kata manis. Kemudian merelakan tatapan mata yang mewakili, ditambah dengan senyuman-senyuman "gregetan".
Aku tidak tau kapan Tuhan berhenti menghendaki. Selama itu belum terjadi (karena memang tidak ada yang pasti), aku hanya bisa bersyukur setidaknya Tuhan masih menghendaki kedekatan kita. Aku bersyukur karena Tuhan masih mengizinkanku untuk banyak belajar darimu, dan belajar bersamamu. Aku masih ingat betapa antusiasnya kita mendengar dan memahami petuah Cak Nun tentang arti sebuah nikmat. Aku masih ingat betapa antusiasnya dirimu memahami makna Surat Al Fatihah. Katamu, Basmallah itu luar biasa. Kemudian kau mulai membuat rencana 'melawan 20 tahun'-mu. Senang sekali rasanya kau mau berbagi denganku.
Aku pun senang bisa berbagi cerita denganmu. Kau pendengar yang baik. Kadang aku iri denganmu. Ada saja solusi yang kau berikan untuk semua masalah yang aku ceritakan padamu. Kau selalu memberi sudut pandang yang berbeda, meskipun kau tidak belajar materi kuliahku atau sekedar mengikuti organisasiku. Kau selalu membuatku puas atas segala masukanmu.
Entah sudah berapa banyak keluhan dan kesedihan yang aku ceritakan. Tapi kau selalu tau bagaimana cara menenangkanku. Menungguku berhenti menangis dengan raut muka khawatirmu, sambil sesekali melempar senyum dan menuntunku untuk sabar dan istighfar. Kau selalu bilang bahwa semua akan baik-baik saja. Kau lebih suka mengevaluasi dan segera mencari solusi daripada sibuk mencari kesalahan.
Rupanya kedekatan kita bisa sampai disini. Kita mulai khawatir, mulai mudah sakit hati dan cemburu, mulai terbawa omongan orang, terutama berkaitan dengan status hubungan kita. Terimakasih, karena pada akhirnya kita selalu tau bagaimana caranya untuk bisa kembali ke komitmen awal kita bersama. Aku senang karena kau selalu mau untuk membicarakan segala sesuatunya bersama. Aku senang kita bisa saling jujur satu sama lain, bahkan tentang kedekatanku dengan teman-teman laki-lakiku, dan kedekatanmu dengan teman-teman perempuanmu. Saling belajar untuk menerima 'paket' satu sama lain.
Bicara tentang paket, ah aku suka sekali konsep paket ini!
Kita saling tau kedekatan ini membawa sesuatu dari hati-hati kita. Banyak momen yang seolah membuat kita merasa alam pun tau kita 'klik'. Ingat film filosofi kopi yang kita tonton tempo hari? Kita saling tertawa membelakangi mendengar si aktor berkata "Kita ini bagai otak sama hati, Bro. Aku otak, kamu hati. Kita ini saling melengkapi."
Kau tau? Kaulah yang mengajariku bahwa ketidakpastian itu pasti. Kita saling sepakat untuk tidak menjalin hubungan seperti mereka. Penjelasanmu yang kemudian membawaku pada konsep "jarak" dan ketidakpastian. Tentang "chapter" yang kita buat. Tentang komitmen yang kita bangun. Tentang mimpi-mimpi dan rencana yang kita amini bersama. Sampai tidak ada satupun dari kita yang berani berucap kata-kata manis. Kemudian merelakan tatapan mata yang mewakili, ditambah dengan senyuman-senyuman "gregetan".
Aku tidak tau kapan Tuhan berhenti menghendaki. Selama itu belum terjadi (karena memang tidak ada yang pasti), aku hanya bisa bersyukur setidaknya Tuhan masih menghendaki kedekatan kita. Aku bersyukur karena Tuhan masih mengizinkanku untuk banyak belajar darimu, dan belajar bersamamu. Aku masih ingat betapa antusiasnya kita mendengar dan memahami petuah Cak Nun tentang arti sebuah nikmat. Aku masih ingat betapa antusiasnya dirimu memahami makna Surat Al Fatihah. Katamu, Basmallah itu luar biasa. Kemudian kau mulai membuat rencana 'melawan 20 tahun'-mu. Senang sekali rasanya kau mau berbagi denganku.
Aku pun senang bisa berbagi cerita denganmu. Kau pendengar yang baik. Kadang aku iri denganmu. Ada saja solusi yang kau berikan untuk semua masalah yang aku ceritakan padamu. Kau selalu memberi sudut pandang yang berbeda, meskipun kau tidak belajar materi kuliahku atau sekedar mengikuti organisasiku. Kau selalu membuatku puas atas segala masukanmu.
Entah sudah berapa banyak keluhan dan kesedihan yang aku ceritakan. Tapi kau selalu tau bagaimana cara menenangkanku. Menungguku berhenti menangis dengan raut muka khawatirmu, sambil sesekali melempar senyum dan menuntunku untuk sabar dan istighfar. Kau selalu bilang bahwa semua akan baik-baik saja. Kau lebih suka mengevaluasi dan segera mencari solusi daripada sibuk mencari kesalahan.
Rupanya kedekatan kita bisa sampai disini. Kita mulai khawatir, mulai mudah sakit hati dan cemburu, mulai terbawa omongan orang, terutama berkaitan dengan status hubungan kita. Terimakasih, karena pada akhirnya kita selalu tau bagaimana caranya untuk bisa kembali ke komitmen awal kita bersama. Aku senang karena kau selalu mau untuk membicarakan segala sesuatunya bersama. Aku senang kita bisa saling jujur satu sama lain, bahkan tentang kedekatanku dengan teman-teman laki-lakiku, dan kedekatanmu dengan teman-teman perempuanmu. Saling belajar untuk menerima 'paket' satu sama lain.
Bicara tentang paket, ah aku suka sekali konsep paket ini!
Comments
Post a Comment