Skip to main content

Selamat Tahun Baru

Selamat tahun baru 2017.
Lagi, di tahun ketiga, aku melewati malam tahun baru di asrama. Dua tahun lalu, kamu hanya teman biasa. Bertegur sapa ala kadarnya. Tahun kedua, kita berfoto bersama di depan dinding andalan bikinan mas adam. Membuat resolusi bersama, menjadi salah satu penonton terakhir nobar. Tahun ini? Tidak. Kamu tidak ada.

Sempat ingin melewatkan tahun baru di kamar saja. Menonton goblin sampai larut, hingga lupa besok tahun baru. Tapi mereka tetap saudara. Apa alasanku untuk tidak datang?
Ah benar saja. Aneh sekali rasanya. Asrama menjadi sangat aneh dan asing. Aku dan emak sendiri dari angkatan kita. Sampai sempat tadi kami "melarikan diri" dari kecanggungan, alih-alih beli minuman bersoda.
Tapi setidaknya aku berhasil untk berbaur dengan segala kecanggungan. Aku berhasil melewatinya dengan normal. Bahkan mungkin kau sudah lihat tingkahku di instastory emak.

Malam ini aku dan emak tidur di asrama. Di kamar mu dan mas yuda. Tidak, aku tidur di kasur mas yuda. Kasurmu emak yang pakai. Sebelum tidur, aku sempat berpamitan dengan semua yang ada di ruanganmu ini. Kepada lemarimu, kasurmu, bantal dan selimutmu, sepatu futsalmu, sajadah dan sarungmu, tak lupa dvd di meja kecil bersama kaset silampukau di sebelah pintu.

Begitu banyak memori di ruangan ini. Disini kita banyak berbagi cerita, keluh kesah, tangisan, tawa, pertengkaran. Ah, harusnya kita perbanyak saja obrolan-obrolan ringan. Seperti kenapa jari kita tidak punya bapak jari? Kemarin aku sempat membicarakan ini dengan temanku saat makan sate klathak pak pong. Kamu harus coba, rasanya otakmu jadi gila setiap gigitannya. Ah, seharusnya memang kita lebih banyak menggila. Bukan banyak mempermasalahkan perihal ketidakpastian dan kemungkinan-kemungkinan untuk tidak bersama. Sepertinya bahasan kita terlalu serius, ya?
Ah, pokoknya kamu harus coba sate itu. Tapi makannya bersama teman, jangan sendirian. Nanti kamu bisa gila sendiri. Tidak seru.

Oiya, malam ini aku izin pinjam jaketmu yg kau gantung di lemari, ya? Sebentar saja. Sebagai tanda perpisahan dengan jaket yang pernah aku bawa pulang dan menghangatkan malamku.
Iya, ini yang terakhir.
Bahkan mungkin aku tidak sempat melihat lagi kertas resolusi yg aku tulis tadi di tahun depan. Kau boleh membacanya. Karena pasti semua orang akan membacanya tahun depan. Seperti yg tadi mereka lakukan sebelum membagi resolusi tahun kemarin ke pemiliknya.

Sampai jumpa yang entah kapan.
Semoga menjadi tahun yang bijak bagimu.

Yk, 1 januari 2017 2:31
Ahsani

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Ekspektasi

21 tahun aku hidup. Dan nggak ada satu tahun pun terlewatkan tanpa Tuhan kasih pelajaran berharga buat aku. Bisa lewat sesuatu yang menyenangkan, bisa juga yang bikin sedih dan capek, like, “God, enough..” Tapi nyatanya Tuhan nggak pernah berhenti kasih pelajaran. Adaa aja sesuatu yang unpredictable yang Tuhan kasih. Suka becanda emang. Tapi ya balik lagi. Toh pada akhirnya selalu ada hal baik yang bisa dipetik. Dan kali ini, Tuhan banyak ngajarin (kali ini dengan mendalam) tentang ekspektasi. Bukan kata yang asing buat aku. Sering digunakan, tapi nggak pernah dapetin maknanya sampe sedalem ini.   Ber-ekspektasi, sesuatu yang seringkali kita ga sadar ngelakuinnya. Beruntung kalau sebanding dengan realita, sangat berpotensi bikin kecewa kalau yang terjadi justru sebaliknya. Aku pernah mempersoalkan apa yang Tuhan berikan dalam hidupku. Atau bisa jadi sering. Jelas aku punya ekspektasi yang baik untuk hidupku. Aku pengen nilai ku selalu bagus, semua kegiatanku lancar, semua o...

Listening to..

You were a call that i couldn't put down you stayed in my mind late into the night my dark passenger - Daniela Andrade