Skip to main content

Posts

Curhat

Sebenernya kalo diitung dari hari ini, liburanku tuh masih sisa 2 minggu. Tapi dari hari Rabu kemarin aku udah balik ke Jogja. Kenapa? Simpel sih, ya pengen aja gitu. Di rumah nggak banyak kerjaan. Paling juga kerjaan rutinnya beresin rumah, masak, nyuci. Keluar juga jarang-jarang, kalo diajakin aja keluar. Disamping karena emang rumahku yang ada di pinggir kota, kemana-mana jauh, nggak ada kendaraan, cari angkot susah, panas, trus nggak enak aja sama orang rumah kalo keseringan keluar. Awalnya balik Jogja mau ngurus KRS, rencanannya mau ambil matkul lintas fakultas. Jadi musti nyiapin surat-surat buat ke fakultas yang dituju. Udah itu aja niatnya. Nggak punya rencana juga ntar bakal ngapain di Jogja sambil nunggu tanggal 15. Pokoknya pengen aja balik Jogja. Pas udah sampe Jogja, ternyata matkul lintas fakultasnya nggak jadi diambil, karena alasan satu-dua hal. Jadi nggak jadi deh ngurus berkas-berkas, segala macem. Hari Kamis ke kampus buat ikut simulasi KRS. Makan, trus pula...

Semut

"Li liat deh semut-semut ini, keren ya mereka. Saling kerjasama buat bawain makanan-makanan ini. Tuh liat deh, udah kayak manusia yang lagi kerja bakti. Eh tapi kok yang ini sendirian aja ya? Semut kenapa kamu nggak gabung sama yang lain? Li aku pindahin ya semutnya biar ikut rombongan." "Nggak usah, Jun. Kali aja dia emang pengen sendiri, ya kan? Mungkin dia sebelumnya uda pernah ikut rombongan itu, tapi ternyata semut-semut yang dia percaya di rombongan itu malah manfaatin dia, atau ngecewain dia. Kelihatannya aja mereka pada loyal, siapa tau ternyata rombongan semut itu selama ini cuma kerja buat dirinya sendiri. Mungkin sekarang dia emang pengen sendirian aja Jun, karena dia cuma bisa percaya sama dirinya sendiri." "Yakali, Li. Kayak manusia aja." "Lah, ya kan kamu duluan tadi yang nyamain semut sama manusia. Aku mah nerusin aja, Jun." "Ya tapi nggak gitu juga.." "Ya kan kali aja, Jun.."

Ahmad (IV)

Kita saling tau bahwa kita sama-sama tidak tau apa yang akan terjadi nanti. Tidak ada yang bisa menjamin kita akan selamanya seperti ini. Itu juga yang menjadi alasanmu untuk tidak pernah menjanjikan apapun padaku. "Promise is the first step to hurts. Then i won't promise." Siapa yang suka dengan ketidakpastian? Tapi bukankah begitu jalannya hidup ini? Aku mulai terbiasa membicarakan ketidakpastian. Karena darinya aku melihat kebenaran dalam hidup. Dan darinya aku banyak belajar untuk merencanakan hidupku kedepan. Tidak tergantung pada siapapun, tidak juga padamu. Aku senang kau mau membagi pola pikirmu padaku. Aku selalu iri ketika kau bisa berdiri diatas kakimu sendiri tanpa peduli omongan orang lain yang mencoba ikut campur. Melakukan sesuatu bukan atas dasar orang lain, tapi karena kau ingin melakukannya. Aku suka caramu berfikir. Aku merasa sangat dihargai ketika kau mau menjelaskannya dengan sabar agar aku tidak marah dan salah paham. Aku merasa sangat dihargai ke...

Ahmad (III)

"Mencintai seseorang itu bukan cuma menyukai kepribadian orang itu aja, tapi  juga mencintai paketnya. Nggak bisa kamu cuma suka ke anaknya aja, tapi kamu juga harus nerima orang tuanya, temen-temennya, keluarga sama lingkungannya. Itu namanya mencintai sepaket." Aku suka dengan konsep 'paket' ini. Terlebih dengan caramu mempraktekkannya. Aku bukan orang yang mudah percaya diri, kau pun tau itu minus dari 'paket'ku. Tapi kau selalu bilang, "selama minus dari paket itu bisa diubah jadi lebih baik, kenapa nggak? Ayo saling memperbaiki 'paket' kita masing-masing." Jawabanmu selalu melegakan, dan selalu dapat diterima olehku. Tidak menyalahkan, justru membantu memperbaiki. Kata siapa menerima 'paket' orang itu mudah? Aku pun masih perlu banyak belajar untuk menerima 'paket'ku sendiri, disamping menerima 'paket'mu. Semua orang tau kau baik dengan siapapun. Dengan teman-temanmu, dengan mantanmu, bahkan dengan perempuan y...

Ahmad (II)

Aku tidak pernah merencanakan ini sebelumnya, tapi rupanya Tuhan masih menghendaki kedekatan kita. Obrolan kita semakin sering, entah berdiskusi tentang sesuatu, bercerita tentang kegiatan di kampus, atau sekedar mengingatkan waktu sholat. Aku ingat akhirnya kita membuat kesepakatan untuk memulai kebiasaan baik. Tidur pukul 11 malam, bangun jam 3, sholat tahajud, sholat dhuha sebelum berangkat ke kampus, dan memberi jatah mengeluh dalam seminggu. Ah, lucu sekali rasanya! Kita saling tau kedekatan ini membawa sesuatu dari hati-hati kita. Banyak momen yang seolah membuat kita merasa alam pun tau kita 'klik'. Ingat film filosofi kopi yang kita tonton tempo hari? Kita saling tertawa membelakangi mendengar si aktor berkata "Kita ini bagai otak sama hati, Bro. Aku otak, kamu hati. Kita ini saling melengkapi." Kau tau? Kaulah yang mengajariku bahwa ketidakpastian itu pasti. Kita saling sepakat untuk tidak menjalin hubungan seperti mereka. Penjelasanmu yang kemudian memba...

Ahmad (I)

Sebelum memori ini termakan usia, sebelum sesuatu membuatku lupa, maka izinkanlah aku menulis apa yang ingin kusampaikan dan apa yang kuingat tentangmu. Tentangmu, yang entah sebaiknya ku sebut apa dirimu ini. Aku masih ingat pertama kali aku mengenalmu saat kita saling mewakili SMP kita masing-masing di acara lokakarya. Bahkan aku tidak ingat apakah kita sempat bercakap waktu itu. Aku hanya tau namamu, itu saja. Sampai akhirnya beranjak SMA, aku kaget mendengar kabar bahwa kau diterima sebagai siswa di SMA idamanku. "Ah mungkin yang diterima disana benar-benar orang yang cerdas", begitu pikirku sembari mencoba ikhlas merelakan mimpi yang sudah kubangun selama 2 tahun lamanya. Kabar selanjutnya yang ku dengar tentangmu adalah ketika kau diterima di universitas yang sama denganku. Senang rasanya, setidaknya biarpun aku tidak diterima di SMA mu pun, aku bisa diterima di universitas yang sama denganmu. I'm not that bad. Aku tidak pernah berbicara denganmu sebelumnya. Bah...

Sepi dan Sendiri

aku tidak suka sepi. tidak suka sendiri. waktu berlalu begitu lama ingatan-ingatan masa lalu datang menghujam tidak banyak senangnya masa lalu yang kelam kemudian dia datang gadis kecil teramat lugu takut untuk ini itu ah, kenapa harus tumbuh? dunia ini mengerikan tetapi banyak lucunya jati diri, religi, dan hati kau siapa? apa kau sudah benar? alim katanya? tunggu, dia siapa? pacar kau bukan? hei itu masa lalu siapa? biarlah, jangan kau ganggu ah lihat, sedang apa aku ini meracau lagi, dan lagi. pasti gara-gara sepi dan sendiri bilang padanya, aku benci.