Skip to main content

#Day13: Terimakasih, Bunda..

“Shodaqollahuladzim..”

Sarah baru saja selesai mengaji. Iya cium Al-Quran-nya, sebelum iya letakkan di lemari kayu pemberian Ibunya. Kemudian ia duduk sejenak di depan meja belajarnya. Memandangi foto ibunya yang terlihat begitu manis dan cantik dalam frame itu. Hidup di perantauan, membuatnya sering merindukan wanita yang paling dicintainya itu. Ah, Bunda sekarang sedang apa? gumamnya dalam hati. Tiba-tiba angannya membawa ia pada ingatan di masa lalu..

----

“Bun, kok aku disuruh berhenti mengaji di TPA?” tanya Sarah. Beberapa hari yang lalu, mendadak Ibu sarah memintanya untuk belajar mengaji di rumah saja bersama Ibunya.

“Kenapa? Kamu tidak suka ya belajar mengaji bersama Bunda?” tanya Ibu Sarah, sembari membenarkan jilbab anaknya itu.

“Bukan begitu, Bun.. Biasanya Bunda kan yang paling semangat menyuruh Sarah mengaji di TPA bersama teman-teman yang lain. Kok sekarang malah Sarah disuruh belajar mengaji di rumah?” tanya Sarah.

“Begini anakku, tahu kah kamu tentang akhirat?” Tanya sang Ibu.

“Tahu Bun, Bunda sudah pernah menjelaskannya tempo hari.” Jawab Sarah.

“Nah, Sarah, di akhirat nanti, semua manusia akan dimintai pertanggungjawaban. Apa-apa saja yang ia sudah perbuat selama di dunia. Apakah ia sudah menjalankan kewajibannya? Apakah ia sudah melakukan apa yang diperintahkan Allah?” Jelas sang Ibu dengan lembut.

“Lalu apa hubungannya dengan Bunda menyuruh Sarah berhenti mengaji di TPA?” Tanya Sarah penasaran.

“Anakku, suatu saat nanti Allah akan bertanya pada Bunda. ‘Sudah kau kerjakan tugasmu sebagai ibu? Sudah kau ajarkan anakmu ilmu pengetahuan?’ Maka Bunda akan menjawab ‘Sudah, Ya Allah, saya sekolahkan dia.’ Kemudian Allah akan bertanya, ‘Sudah kau ajarkan mengaji anakmu?’ Bunda akan menjawab, ‘Sudah Ya Allah, saya masukkan dia ke TPA’. Allah bertanya lagi, ‘Jika semua tugasmu itu kau limpahkan kepada orang lain, lantas apa yang sudah kau berikan pada anakmu?’ Lalu Bunda harus menjawab seperti apa, nak? Maka dari itu, Bunda ingin menjalankan apa yang sudah menjadi kewajiban Bunda. Bunda ingin menjadi orang yang mengajarimu banyak hal. Bunda ingin menjadi perantara bagimu untuk mengenal Allah, nak. Sarah Ikhlas kan nak, diajari mengaji sama Bunda?” Tutur ibunya dengan begitu lembut.

“Tentu saja, Bunda..” Jawab Sarah sambil memeluk ibunya dengan erat.

---

Air mata Sarah menetes, mengingat betapa besar jasa wanita yang begitu dicintainya itu padanya.
“Terimakasih Bunda..”

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Ekspektasi

21 tahun aku hidup. Dan nggak ada satu tahun pun terlewatkan tanpa Tuhan kasih pelajaran berharga buat aku. Bisa lewat sesuatu yang menyenangkan, bisa juga yang bikin sedih dan capek, like, “God, enough..” Tapi nyatanya Tuhan nggak pernah berhenti kasih pelajaran. Adaa aja sesuatu yang unpredictable yang Tuhan kasih. Suka becanda emang. Tapi ya balik lagi. Toh pada akhirnya selalu ada hal baik yang bisa dipetik. Dan kali ini, Tuhan banyak ngajarin (kali ini dengan mendalam) tentang ekspektasi. Bukan kata yang asing buat aku. Sering digunakan, tapi nggak pernah dapetin maknanya sampe sedalem ini.   Ber-ekspektasi, sesuatu yang seringkali kita ga sadar ngelakuinnya. Beruntung kalau sebanding dengan realita, sangat berpotensi bikin kecewa kalau yang terjadi justru sebaliknya. Aku pernah mempersoalkan apa yang Tuhan berikan dalam hidupku. Atau bisa jadi sering. Jelas aku punya ekspektasi yang baik untuk hidupku. Aku pengen nilai ku selalu bagus, semua kegiatanku lancar, semua o...

Listening to..

You were a call that i couldn't put down you stayed in my mind late into the night my dark passenger - Daniela Andrade