“Shodaqollahuladzim..”
Sarah baru saja selesai mengaji. Iya cium Al-Quran-nya,
sebelum iya letakkan di lemari kayu pemberian Ibunya. Kemudian ia duduk sejenak di depan
meja belajarnya. Memandangi foto ibunya yang terlihat begitu manis dan cantik
dalam frame itu. Hidup di perantauan, membuatnya sering merindukan wanita yang paling dicintainya itu. Ah, Bunda sekarang sedang apa? gumamnya dalam hati. Tiba-tiba
angannya membawa ia pada ingatan di masa lalu..
----
“Bun, kok aku disuruh berhenti mengaji di TPA?” tanya
Sarah. Beberapa hari yang lalu, mendadak Ibu sarah memintanya untuk belajar
mengaji di rumah saja bersama Ibunya.
“Kenapa? Kamu tidak suka ya belajar mengaji bersama Bunda?”
tanya Ibu Sarah, sembari membenarkan jilbab anaknya itu.
“Bukan begitu, Bun.. Biasanya Bunda kan yang paling semangat
menyuruh Sarah mengaji di TPA bersama teman-teman yang lain. Kok sekarang malah
Sarah disuruh belajar mengaji di rumah?” tanya Sarah.
“Begini anakku, tahu kah kamu tentang akhirat?” Tanya sang
Ibu.
“Tahu Bun, Bunda sudah pernah menjelaskannya tempo hari.”
Jawab Sarah.
“Nah, Sarah, di akhirat nanti, semua manusia akan dimintai
pertanggungjawaban. Apa-apa saja yang ia sudah perbuat selama di dunia. Apakah
ia sudah menjalankan kewajibannya? Apakah ia sudah melakukan apa yang
diperintahkan Allah?” Jelas sang Ibu dengan lembut.
“Lalu apa hubungannya dengan Bunda menyuruh Sarah berhenti
mengaji di TPA?” Tanya Sarah penasaran.
“Anakku, suatu saat nanti Allah akan bertanya pada Bunda. ‘Sudah
kau kerjakan tugasmu sebagai ibu? Sudah kau ajarkan anakmu ilmu pengetahuan?’ Maka
Bunda akan menjawab ‘Sudah, Ya Allah, saya sekolahkan dia.’ Kemudian Allah akan
bertanya, ‘Sudah kau ajarkan mengaji anakmu?’ Bunda akan menjawab, ‘Sudah Ya
Allah, saya masukkan dia ke TPA’. Allah bertanya lagi, ‘Jika semua tugasmu itu
kau limpahkan kepada orang lain, lantas apa yang sudah kau berikan pada anakmu?’
Lalu Bunda harus menjawab seperti apa, nak? Maka dari itu, Bunda ingin
menjalankan apa yang sudah menjadi kewajiban Bunda. Bunda ingin menjadi orang yang mengajarimu banyak
hal. Bunda ingin menjadi perantara bagimu untuk mengenal Allah, nak. Sarah
Ikhlas kan nak, diajari mengaji sama Bunda?” Tutur ibunya dengan begitu lembut.
“Tentu saja, Bunda..” Jawab Sarah sambil memeluk ibunya
dengan erat.
---
Air mata Sarah menetes, mengingat betapa besar jasa wanita yang begitu dicintainya itu padanya.
“Terimakasih Bunda..”
Comments
Post a Comment