Perayaan Waisak sepertinya sudah menjadi momen yang dinanti-nantikan oleh banyak orang. Tidak hanya umat Budda saja, perayaan Waisak rupanya telah berhasil memikat banyak pengunjung dari berbagai kalangan untuk ikut serta dalam kemeriahan acara ini. Khususnya pada saat prosesi pelepasan lampion. Tentu saja acara tersebut menjadi momen menarik, terutama bagi para fotografer untuk berlomba-lomba mengabadikan momen tersebut dengan sebagus mungkin. Tak heran jika malam itu kawasan Candi Borobudur menjadi ramai sekali. Kebanyakan orang sibuk menyiapkan kameranya, memasang tripod, mencari view yang bagus untuk di foto.
Bicara tentang perayaan Waisak kemarin, entah mengapa ada yang lebih menarik perhatian saya disamping meriahnya acara dan keindahan lampion-lampion itu. Rupanya saat ini Indonesia sedang kelimpahan fotografer, terutama fotografer dirinya sendiri. Ya, selfie.
Saya tidak tahu kapan tepatnya fenomena selfie ini menjadi booming. Saya menduga bahwa kemunculan Instagram-lah yang menjadi faktor utamanya. Selain media sosial seperti Twitter, Facebook maupun Path, Instagram juga menjadi wadah bagi penggunanya dalam mmenciptakan eksistensi diri. Semua berlomba-lomba memaperkan hasil jepretan terbaiknya, tak terkecuali hasil jepretan yang dewasa ini lebih dikenal dengan sebutan selfie.
Dalam prosesi pelepasan lampion ini, pengunjung dibagi menjadi 2 kategori: pembeli tiket dan tidak membeli tiket. Bagi pangunjung dengan tiket, berhak untuk masuk ke dalam arena dan menerbangkan lampion yang telah disiapkan oleh panitia. Sedangkan bagi pengunjung tanpa tiket hanya bisa menyaksikan prosesi di luar batas arena.
Pelepasan lampion dilakukan sebanyak 3 sesi. Sesi pertama berjalan dengan cukup baik. Lampion beterbangan dengan indah di langit. Kemudian dilanjutkan dengan sesi kedua. Tidak seperti sesi pertama, seketika pada sesi kedua sudah banyak pengunjung non-tiket berhamburan menerobos pembatas masuk dalam arena. Mencoba mendekat dengan para pengunjung yang sedang asik menyalakan lampionnya. Untuk apa? Ya, selfie.Tanpa dikomando, mereka sudah siap dengan kamera beserta tongsis ditangannya. Mencari background dan pencahayaan yang ciamik untuk masuk kedalam frame. Pasang senyum terbaik, rapikan rambut, rapikan kerudung, kemudian..jepret! Flash kamera dimana-mana.
Fenomena ini sungguh ironis Bahkan mereka rela melanggar aturan dan etika demi mendapatkan foto selfie terbaik. Demi mendapatkan 'love' di instagramnya nanti. Sampai-sampai ketika saya izin untuk melewati orang disamping saya saat itu, orang itu tidak mengizinkan saya untuk lewat dengan alasan "tapi saya masih mau foto disini mbak!". Ironis, bukan?
Bicara tentang perayaan Waisak kemarin, entah mengapa ada yang lebih menarik perhatian saya disamping meriahnya acara dan keindahan lampion-lampion itu. Rupanya saat ini Indonesia sedang kelimpahan fotografer, terutama fotografer dirinya sendiri. Ya, selfie.
Saya tidak tahu kapan tepatnya fenomena selfie ini menjadi booming. Saya menduga bahwa kemunculan Instagram-lah yang menjadi faktor utamanya. Selain media sosial seperti Twitter, Facebook maupun Path, Instagram juga menjadi wadah bagi penggunanya dalam mmenciptakan eksistensi diri. Semua berlomba-lomba memaperkan hasil jepretan terbaiknya, tak terkecuali hasil jepretan yang dewasa ini lebih dikenal dengan sebutan selfie.
Dalam prosesi pelepasan lampion ini, pengunjung dibagi menjadi 2 kategori: pembeli tiket dan tidak membeli tiket. Bagi pangunjung dengan tiket, berhak untuk masuk ke dalam arena dan menerbangkan lampion yang telah disiapkan oleh panitia. Sedangkan bagi pengunjung tanpa tiket hanya bisa menyaksikan prosesi di luar batas arena.
Pelepasan lampion dilakukan sebanyak 3 sesi. Sesi pertama berjalan dengan cukup baik. Lampion beterbangan dengan indah di langit. Kemudian dilanjutkan dengan sesi kedua. Tidak seperti sesi pertama, seketika pada sesi kedua sudah banyak pengunjung non-tiket berhamburan menerobos pembatas masuk dalam arena. Mencoba mendekat dengan para pengunjung yang sedang asik menyalakan lampionnya. Untuk apa? Ya, selfie.Tanpa dikomando, mereka sudah siap dengan kamera beserta tongsis ditangannya. Mencari background dan pencahayaan yang ciamik untuk masuk kedalam frame. Pasang senyum terbaik, rapikan rambut, rapikan kerudung, kemudian..jepret! Flash kamera dimana-mana.
Fenomena ini sungguh ironis Bahkan mereka rela melanggar aturan dan etika demi mendapatkan foto selfie terbaik. Demi mendapatkan 'love' di instagramnya nanti. Sampai-sampai ketika saya izin untuk melewati orang disamping saya saat itu, orang itu tidak mengizinkan saya untuk lewat dengan alasan "tapi saya masih mau foto disini mbak!". Ironis, bukan?
Comments
Post a Comment