Skip to main content

#Day24: Menulis Mimpi

Dulu sewaktu saya masih SMA, saya pernah mendapat nasehat dari seorang teman yang usianya  terpaut lumayan jauh dengan saya. Kami sering berbagi cerita tentang impian kami masing-masing. Sampai suatu ketika dia menasehati saya untuk menulis semua impian-impian saya. 

"Tulisen nduk, ben kamu inget nek kamu punya impian itu. Jangan cuma diangan-angan. Wes ta, tulisen. InsyaAllah nanti ada saatnya tulisanmu itu jadi kenyataan." begitu katanya.
"Tapi nek gitu itu apa kita nggak kayak lagi ndekte Tuhan, mas?"
"Loh ya ndak to, ini itu hanya sebagai motivasi pencapaian targetmu. Anggap aja ini tuh 'proposal'mu ke Allah. Tapi ya harus disertai sama doa dan usaha. Syukur Alhamdulillah kalo bisa di 'acc'. Dicoba sek.."

Di lain kesempatan, saya juga mendapatkan motivasi yang sama tentang "menulis mimpi" ini. Ketika itu saya sedang menghadiri acara semacam seminar di sekolah. Sebelum pembicara menyampaikan materinya, beliau terlebih dahulu melihatkan kepada kami suatu video yang sangat menarik. Video itu menceritakan tentang seorang mahasiswa IPB yang menuliskan semua target hidupnya. Mahasiswa itu awalnya termotivasi dari nasehat seorang pemateri dalam suatu acara di kampusnya. Begini nasehat pemateri bijak tersebut, 
"Tuliskanlah mimpi-mimpi anda secara nyata! Jangan anda tulis dalam ingatan saja. Karena pasti anda akan lupa. Tuliskanlah secara nyata! Tulislah 100 target anda diatas kertas. Hingga suatu hari nanti, yang anda lihat dari 100 target itu hanyalah coretan-coretan karena anda telah mencapainya!"
Mahasiswa itu kemudian menuliskan 100 target hidupnya pada 2 lembar kertas. Kemudian ia tempel kedua kerta tersebut di dinding kamarnya. Awalnya banyak sekali teman-teman yang menertawainya. Tapi siapa sangka, 2 lembar kertas itu kini menjadi lembaran kertas yang dapat menutup rapat mulut mereka yang sebelumnya sempat menertawainya. 100 target itu satu-persatu terwujud menjadi nyata. Terus terang, saya merinding melihat video itu.

Saya percaya bahwa semua impian itu bisa terwujudkan, asalkan kita bersungguh-sungguh mewujudkannya. Tapi terkadang impian itu hanya sekedar angin lalu yang bahkan tidak sempat kita perjuangkan, karena kita lupa bahwa kita pernah memimpikannya. Mungkin ada benarnya jika impian atau target hidup itu kita tuliskan secara nyata, dan kita tempel di tempat yang sering kita lihat, agar kita selalu termotivasi untuk mewujudkannya. Tuliskan saja, toh tidak ada salahnya. Bagaimana? Tertarik untuk mencobanya? :)


***


NB: ini adalah salah satu target saya yang pernah saya tulis dan saya tempel di kamar pada tahun lalu. Alhamdulillah, bahagia rasanya ketika melihat tulisan itu tidak lagi sekedar tulisan. Saya jadi "ketagihan" untuk membuat impian-impian saya yang lain agar tidak sekedar menjadi impian yang tak pernah diperjuangkan. InsyaAllah..



Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tentang Ekspektasi

21 tahun aku hidup. Dan nggak ada satu tahun pun terlewatkan tanpa Tuhan kasih pelajaran berharga buat aku. Bisa lewat sesuatu yang menyenangkan, bisa juga yang bikin sedih dan capek, like, “God, enough..” Tapi nyatanya Tuhan nggak pernah berhenti kasih pelajaran. Adaa aja sesuatu yang unpredictable yang Tuhan kasih. Suka becanda emang. Tapi ya balik lagi. Toh pada akhirnya selalu ada hal baik yang bisa dipetik. Dan kali ini, Tuhan banyak ngajarin (kali ini dengan mendalam) tentang ekspektasi. Bukan kata yang asing buat aku. Sering digunakan, tapi nggak pernah dapetin maknanya sampe sedalem ini.   Ber-ekspektasi, sesuatu yang seringkali kita ga sadar ngelakuinnya. Beruntung kalau sebanding dengan realita, sangat berpotensi bikin kecewa kalau yang terjadi justru sebaliknya. Aku pernah mempersoalkan apa yang Tuhan berikan dalam hidupku. Atau bisa jadi sering. Jelas aku punya ekspektasi yang baik untuk hidupku. Aku pengen nilai ku selalu bagus, semua kegiatanku lancar, semua o...

Listening to..

You were a call that i couldn't put down you stayed in my mind late into the night my dark passenger - Daniela Andrade