Skip to main content

#Day1: Selamat Hari Kebangkitan Nasional!

Tanganku sedang asik memegang kamera. Sibuk membidik angel yang pas dari deretan orang-orang yang sedang duduk berjejer rapi di tangga Grha Sabha Pramana UGM. Hari ini UGM mengadakan Aubade Pancasila untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Kira-kira ada sekitar 5000 orang disana. Mulai dari anak SD, SMP, SMA, Kuliah, hingga para orang tua berbaur menjadi satu. Semua saling mengenakan pakaian identitasnya. Anak-anak SD sibuk memainkan bendera plastik mereka. Momen ini sangat pas untukku, mengingat aku harus mengumpulkan foto bertema nasionalisme untuk pemaren acara di fakultas minggu depan. Yang kupikirkan saat itu adalah aku harus mengambil momen sebagus mungkin dari acara ini.

Aku memilih mengambil posisi di depan, bersama orang-orang yang juga ingin mengabadikan momen langka ini. Ada saja momen-momen yang membuatku sejenak meletakkan kamera. Terpukau dengan nyanyian-nyanyian bertema nasionalisme yang dibawakan oleh semua peserta dengan begitu indah dan tak jarang membuatku merinding. Sesekali aku juga ikut bernyanyi bersama mereka. Paduan suara yang sepertinya sudah dipersiapkan dengan matang ini sukses membuatku kagum dan bahagia. Ya, bahagia, bahwa aku adalah bagian dari Indonesia.

Namun selain itu, ada juga momen yang membuatku ingin melihat dengan jeli seakan tidak percaya. Di deretan anak-anak SD yang terlihat enggan untuk mendengarkan sambutan dari orang-orang terhormat dalam acara itu, aku melihat sebagian dari mereka yang sedang asik memainkan alat elektronik di genggamannya. Ya, handphone. Tak tanggung-tanggung, handphone yang mereka miliki rata-rata adalah jenis android. Bahkan ada dari mereka yang asik membaca novel untuk remaja diatas usia 17 tahun.

Melihat momen itu, aku kemudian teringat mengenai perbincangan tentang tingkah laku anak SD yang sedang marak dipublikasikan di media massa. Aku tidak tahu seperti apa persisnya kehidupan anak SD zaman sekarang yang dipandang sangat kontras dengan zaman dulu. Sesuatu yang tidak dipakai pada tempatnya tentu saja memiliki peluang yang lebih besar untuk menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan. Bukankah mereka masih terlalu dini untuk mengetahui hal-hal semacam itu? Lantas siapa yang harus disalahkan?

Mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa adalah tugas kita bersama. Begitupun dengan menyiapkan calon pemimpin-pemimpin negeri ini nantinya. Adalah tugas kita untuk saling menjaga, memberi dan menerima sesuai porsinya, saling mengingatkan, dan bergandengan tangan untuk memberikan yang terbaik yang bisa kita berikan kepada negeri ini. 

Selamat Hari Kebangkitan Nasional! J



#Day1 #31HariMenulis

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Ekspektasi

21 tahun aku hidup. Dan nggak ada satu tahun pun terlewatkan tanpa Tuhan kasih pelajaran berharga buat aku. Bisa lewat sesuatu yang menyenangkan, bisa juga yang bikin sedih dan capek, like, “God, enough..” Tapi nyatanya Tuhan nggak pernah berhenti kasih pelajaran. Adaa aja sesuatu yang unpredictable yang Tuhan kasih. Suka becanda emang. Tapi ya balik lagi. Toh pada akhirnya selalu ada hal baik yang bisa dipetik. Dan kali ini, Tuhan banyak ngajarin (kali ini dengan mendalam) tentang ekspektasi. Bukan kata yang asing buat aku. Sering digunakan, tapi nggak pernah dapetin maknanya sampe sedalem ini.   Ber-ekspektasi, sesuatu yang seringkali kita ga sadar ngelakuinnya. Beruntung kalau sebanding dengan realita, sangat berpotensi bikin kecewa kalau yang terjadi justru sebaliknya. Aku pernah mempersoalkan apa yang Tuhan berikan dalam hidupku. Atau bisa jadi sering. Jelas aku punya ekspektasi yang baik untuk hidupku. Aku pengen nilai ku selalu bagus, semua kegiatanku lancar, semua o...

Listening to..

You were a call that i couldn't put down you stayed in my mind late into the night my dark passenger - Daniela Andrade