Skip to main content

#Day6: And I Do What I Love

Hari ini sebenarnya aku ingin menuliskan sesuatu yang lebih berisi dan agak sedikit serius. tapi apa daya, kegiatanku baru selesai beberapa menit yang lalu. iya, aku baru sampai kos. tinggal beberapa menit lagi menuju deadline #31hari menulis. Berhubung aku tidak ingin uang 20 ribuku menghilang begitu saja, dan karena seluruh badanku rasanya berkonspirasi memaksaku tidur lebih awal, jadi hari ini aku tulis saja seadanya yang ada di pikiranku.

Pelajaran berharga buat ku hari ini adalah "do what you love, and love what you do". Sepakat atau tidak, aku benar-benar memegang kalimat ini. Aku akan dengan senang hati dan bisa maksimal dalam mengerjakan apa yang aku sukai. Kalau tidak suka, ya jangan heran jika pada akhirnya apa yang aku kerjakan tidak maksimal. Kalimat ini penting menurutku. Penting untuk orang lain tau, bahwa kita tidak bisa memaksa orang lain untuk menyukai sesuatu. Apapun itu. Gitu ya :)

Comments

Popular posts from this blog

Ahmad (V)

“Sampai waktu membawaku kembali padamu. Perlahan mengikis luka dan cerita sendu. Lalu bersama memintai doa, kiranya diamini semesta.” Berdamai dengan diri sendiri adalah sesuatu yang sedang aku pelajari sejak kepergianmu saat itu. Aku marah padamu, bahkan juga pada Tuhan. Aku marah atas sikapmu. Aku marah pada keadaan. Aku marah, kenapa aku dipertemukan denganmu, kalau akhirnya kau pergi juga? Lalu apa bedanya kamu dengan sebelummu? Lalu lari kemana doa-doaku? Semakin aku marah, semakin aku ingin menjadi egois. Bersikeras untuk acuh kepadamu. Tidak peduli apapun cerita tentangmu. Tidak peduli dengan cibiran orang-orang. Seolah aku berdiri sendiri, menutup telinga dari saran-saran bijak sekalipun. Mereka hanya tidak tahu bagaimana rasanya, pikirku saat itu. Tapi semakin aku marah, justru hatiku semakin sakit. Justru aku tidak berhenti memikirkannya sepanjang hari. Dan justru aku diam-diam mencari tahu tentangmu, yang nyatanya membuatku semakin sakit. Lalu aku merasa ...

#Day9: Dialog

"Hei, sedang apa?" "Tidak ada." "Tadi kau melamun. Sedang memikirkan sesuatu?" "Tidak." "Ayolah, kau pasti sedang memikirkan sesuatu." "Darimana kau tahu?" "Matamu tidak bisa membohongiku." "Baiklah. Menurutmu, haruskah kita bertahan untuk sesuatu yang tidak kita sukai?" "Tentu saja tidak. Untuk apa? Lebih baik mencari sesuatu lainnya yang kita sukai, bukan?" "Menurutmu, mengapa seseorang bertahan untuk sesuatu yang tidak dia sukai?" "Mmm.. Mungkin ada sesuatu yang memang tidak bisa ia tinggalkan disana. Entah tanggung jawab, atau apapun lainnya." "Baiklah.." "Kenapa kau menanyakannya?" "Kalau ku jawab, apakah kau akan marah?" "Mmm tidak." "Aku tidak menyukai keberadaanku disini." "Lalu mengapa kau masih bertahan?" "Seperti katamu, ada sesuatu yang tak bisa kutinggalkan." "Apa?" ...

Sebelah Mata

Hari ini saya dan teman-teman foto angkatan untuk kedua kalinya. Pertanda bahwa kami sudah dipenghujung perjuangan menjadi seorang mahasiswa. Foto angkatan pertama kali, kami lakukan pada saat menjadi maba. Sengaja kami ambil spot foto yang sama, dengan tema yang sama, dan posisi duduk yang sama, dengan foto 3 tahun lalu. Sejenak saya pandangi teman-teman saya. Begitu banyak hal yang berubah selama 3 tahun ini. Dulunya, teman di depan saya ini tidak begitu memperhatikan penampilan. Tapi lihatlah! Sekarang malah dia yang selalu tampil stylist , bahkan untuk datang kuliah yang hanya 1 matkul sekalipun. Teman saya di ujung sana, dulunya pendiam sekali. Tapi lihatlah! Sekarang justru dia yang sibuk mengajak selfie bersama teman-teman yang lain. Ada lagi yang di sebelah saya ini. Dulu dia sukanya pakai celana jeans ketat. Tapi lihatlah! Bahkan sekarang saya sudah tidak bisa melihat gerak-gerik mulutnya saat dia berbicara . People change. And so do i. Saya flashback ke masa-masa s...