Skip to main content

#Day11: Penghuni Kamar Sebelah

Kemarin malam ada pemandangan aneh di depan pintu kamar kos saya. Bukan ada kuntilanak yang tiba-tiba nyesot, bukan. Tapi rak sepatu milik penghuni kamar sebelah yang tiba-tiba raib dari tempatnya. Di depan kamar kos saya memang menjadi tempat yang aman dari hujan untuk meletakkan rak sepatu. Jadilah di depan pintu kamar saya ada 3 rak sepatu yang berjejer dengan cukup rapi. Tapi malam ini, rak sepatu nomer dua itu tidak ada. Saya sempat mencari disekitar, barangkali memang dipindahkan. Tetapi tetap tidak ada. Apa dicuri orang? Kondisi jogja memang rawan pencurian akhir-akhir ini. Saya lihat kamar pemilik rak sepatu itu. Sudah gelap rupanya. Mungkin sudah tidur. Akhirnya saya pun memutuskan untuk menindak lanjuti kasus hilangnya rak sepatu ini besok pagi.

Sesuai rencana saya, paginya saya kembali mencari keberadaan rak sepatu itu yang rupanya belum juga kembali ke tempat asalnya. Saya berniat untuk menanyakannya pada penghuni kamar sebelah. Belum sempat saya ketuk pintunya, saya melihat dari cela-cela jendela, isi kamar itu sudah berbeda. Yang ada hanya kasur tanpa seprei dan lemari kecil dipojokan. Saya bingung, padahal baru kemarin saya lihat si pemilik kamar lewat di depan kamar saya sambil membawa alat-alat mandi. Eh, sekarang orangnya sudah tidak ada. Kapan pindahnya? Bahkan saya pun tidak melihat dia packing barang-barang. Ini ajaib.

Saya buru-buru bertanya pada penghuni kamar yang lain. Ternyata mereka semua juga tidak tahu. "Iya po?", "Lah kapan pindahnya?", kurang lebih seperti itu lah respon mereka. Saya jadi bingung saya harus bertanya kepada siapa. Kenapa si doi pindah? Apa karena mas Irwan yang jahat menaikkan biaya listrik per item? Apa karena dia marah padaku yang sering berisik di kamar? Atau karena kucing yang suka mengobrak-abrik sampah di dapur?

Saya memang tidak terlalu dekat dengan mbak-mbak penghuni kamar sebelah. Kalau ketemu ya menyapa. Tapi saya sedih, karena dia tidak pamit pada saya. Setidaknya kita sudah saling kenal, bahkan dia pernah memberi saya donat bikinannya sendiri. Kita sudah cukup akrab, bukan? Tapi kenapa.. kenapa...

Dimana pun mbak-mbak itu berada, dimana pun dia tinggal sekarang, saya hanya bisa berdoa semoga dia betah dan bahagia. Terimakasih untuk donatnya, terimakasih untuk pinjaman charger HPnya, dan terimakasi sudah menjadi teman kos saya selama beberapa bulan belakangan :')

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Ekspektasi

21 tahun aku hidup. Dan nggak ada satu tahun pun terlewatkan tanpa Tuhan kasih pelajaran berharga buat aku. Bisa lewat sesuatu yang menyenangkan, bisa juga yang bikin sedih dan capek, like, “God, enough..” Tapi nyatanya Tuhan nggak pernah berhenti kasih pelajaran. Adaa aja sesuatu yang unpredictable yang Tuhan kasih. Suka becanda emang. Tapi ya balik lagi. Toh pada akhirnya selalu ada hal baik yang bisa dipetik. Dan kali ini, Tuhan banyak ngajarin (kali ini dengan mendalam) tentang ekspektasi. Bukan kata yang asing buat aku. Sering digunakan, tapi nggak pernah dapetin maknanya sampe sedalem ini.   Ber-ekspektasi, sesuatu yang seringkali kita ga sadar ngelakuinnya. Beruntung kalau sebanding dengan realita, sangat berpotensi bikin kecewa kalau yang terjadi justru sebaliknya. Aku pernah mempersoalkan apa yang Tuhan berikan dalam hidupku. Atau bisa jadi sering. Jelas aku punya ekspektasi yang baik untuk hidupku. Aku pengen nilai ku selalu bagus, semua kegiatanku lancar, semua o...

Listening to..

You were a call that i couldn't put down you stayed in my mind late into the night my dark passenger - Daniela Andrade