Skip to main content

#Day5: Apakah Kau Juga Begitu?


Aku masih sangat ingat, betapa nakalnya dirimu dulu saat masih kecil. Entah sudah berapa banyak malam yang kita habiskan untuk bertengkar hanya karena masalah yang sepele.

Aku masih ingat, saat pulang sekolah dulu. Ibu sudah menjemput, dan kau malah asik bermain entah kemana. Sampai aku dibuat pusing dan kesal mencarimu. Eh, ternyata kau malah bermain ke sungai dekat sekolah.

Aku masih ingat, betapa ibu sangat murka ketika mendapat laporan tentang kenakalanmu di sekolah.  Ibu buang semua bukumu, berniat untuk membakar semuanya. Kau hanya diam. Aku dan kakak yang menghalangi. Hanya beberapa bukumu yang bisa terselamatkan.

Aku masih ingat, saat ibu mengemasi pakaian-pakaianmu. Berniat membawamu ke panti asuhan, sebagai balasan dari kenalan yang kau buat. Ibu membawamu pergi. Namun selang beberapa jam kemudian, kau kembali ke rumah bersama ibu dengan sembab dimatamu.

Aku masih ingat, saat mulutmu mengeluarkan kata-kata kasar, yang tak seharusnya diucapkan oleh anak seumurmu kepada orang yang lebih tua. Ibu kembali murka kepadamu. Entah bagaimana, beberapa saat setelah itu, kau menjadi kesusahan membaca ta'awudz dan basmalah.

Alamak, nakal sekali kau ini?

Tapi itu masa lalumu. Lihat dirimu sekarang. Bahkan tinggi badanmu sudah jauh melebihi tinggi badanku. Ukuran sepatumu sudah terlampau besar dari ukuran sepatuku. Hei, bahkan jakunmu sudah muncul! Kau benar-benar sudah tumbuh besar sekarang.

Kini kau tahu, bahwa kau bisa jika kau mau. Bahkan tahun ajaran yang lalu kau bisa menduduki peringkat satu, bukan? Bahkan piala kejuaraan di ruang tamu itu, akhirnya kau miliki juga, bukan? Bahkan sekolah menunjukmu untuk menjadi perwakilan dalam seminar nasional tempo lalu. Lihat dirimu. Betapa hebatnya dirimu sekarang. Kami semua bangga padamu! Dan aku lebih bangga padamu.

Tapi terkadang aku sedih, karena kau jarang mengeluh. Aku sedih, ketika kau mulai menutupi masalah-masalahmu, membiarkanku bertanya-tanya tanpa kunjung mendapat cerita darimu. Aku sedih, karena kau sering memendam semuanya. Aku sedih, saat kau menutup mintu kamarmu, berbicara sendiri seakan sedang mengutuk sesuatu. Aku lebih sedih, karena aku tidak bisa menjadi bahumu. Ya, dulu aku sangat sedih karena itu..

Kau tau? Disisa waktuku sebelum aku benar-benar tidak tinggal satu atap denganmu, aku merasa sangat bahagia. Bukan, bukan karena aku bahagia tidak tinggal bersamamu lagi. Aku bahagia, karena saat itu kau mulai membagi ceritamu denganku. Kau mulai bercerita tentang orang yang kau sukai di kelas. Ah, siapa namanya? Banyak sekali, aku sampai lupa. kau juga ceritakan aktifitasmu disekolah. Dan kini, saat kita benar-benar terpisahkan oleh jarak, kau bahkan bersedia menelponku. Bercerita banyak hal padaku. Kau juga dengan senang hati mendengar ceritaku. Bahkan terkadang nasehatmu lebih dewasa daripada aku. Ah, senang sekali rasanya. Apakah kau juga begitu?

Aku harap, kita akan seperti ini selamanya. Saling berbagi dan mengasihi. Memikul beban kita bersama. Menguatkan ketika mulai merasa lemah. Mendorong ketika ingin berputus asa. Tersenyum bersama ketika kebahagiaan menyapa.

Aku bahagia memilikimu. Apakah kau juga begitu, adikku?

Comments

Popular posts from this blog

Ahmad (V)

“Sampai waktu membawaku kembali padamu. Perlahan mengikis luka dan cerita sendu. Lalu bersama memintai doa, kiranya diamini semesta.” Berdamai dengan diri sendiri adalah sesuatu yang sedang aku pelajari sejak kepergianmu saat itu. Aku marah padamu, bahkan juga pada Tuhan. Aku marah atas sikapmu. Aku marah pada keadaan. Aku marah, kenapa aku dipertemukan denganmu, kalau akhirnya kau pergi juga? Lalu apa bedanya kamu dengan sebelummu? Lalu lari kemana doa-doaku? Semakin aku marah, semakin aku ingin menjadi egois. Bersikeras untuk acuh kepadamu. Tidak peduli apapun cerita tentangmu. Tidak peduli dengan cibiran orang-orang. Seolah aku berdiri sendiri, menutup telinga dari saran-saran bijak sekalipun. Mereka hanya tidak tahu bagaimana rasanya, pikirku saat itu. Tapi semakin aku marah, justru hatiku semakin sakit. Justru aku tidak berhenti memikirkannya sepanjang hari. Dan justru aku diam-diam mencari tahu tentangmu, yang nyatanya membuatku semakin sakit. Lalu aku merasa ...

#Day9: Dialog

"Hei, sedang apa?" "Tidak ada." "Tadi kau melamun. Sedang memikirkan sesuatu?" "Tidak." "Ayolah, kau pasti sedang memikirkan sesuatu." "Darimana kau tahu?" "Matamu tidak bisa membohongiku." "Baiklah. Menurutmu, haruskah kita bertahan untuk sesuatu yang tidak kita sukai?" "Tentu saja tidak. Untuk apa? Lebih baik mencari sesuatu lainnya yang kita sukai, bukan?" "Menurutmu, mengapa seseorang bertahan untuk sesuatu yang tidak dia sukai?" "Mmm.. Mungkin ada sesuatu yang memang tidak bisa ia tinggalkan disana. Entah tanggung jawab, atau apapun lainnya." "Baiklah.." "Kenapa kau menanyakannya?" "Kalau ku jawab, apakah kau akan marah?" "Mmm tidak." "Aku tidak menyukai keberadaanku disini." "Lalu mengapa kau masih bertahan?" "Seperti katamu, ada sesuatu yang tak bisa kutinggalkan." "Apa?" ...

Sebelah Mata

Hari ini saya dan teman-teman foto angkatan untuk kedua kalinya. Pertanda bahwa kami sudah dipenghujung perjuangan menjadi seorang mahasiswa. Foto angkatan pertama kali, kami lakukan pada saat menjadi maba. Sengaja kami ambil spot foto yang sama, dengan tema yang sama, dan posisi duduk yang sama, dengan foto 3 tahun lalu. Sejenak saya pandangi teman-teman saya. Begitu banyak hal yang berubah selama 3 tahun ini. Dulunya, teman di depan saya ini tidak begitu memperhatikan penampilan. Tapi lihatlah! Sekarang malah dia yang selalu tampil stylist , bahkan untuk datang kuliah yang hanya 1 matkul sekalipun. Teman saya di ujung sana, dulunya pendiam sekali. Tapi lihatlah! Sekarang justru dia yang sibuk mengajak selfie bersama teman-teman yang lain. Ada lagi yang di sebelah saya ini. Dulu dia sukanya pakai celana jeans ketat. Tapi lihatlah! Bahkan sekarang saya sudah tidak bisa melihat gerak-gerik mulutnya saat dia berbicara . People change. And so do i. Saya flashback ke masa-masa s...