Aku masih sangat ingat, betapa nakalnya dirimu dulu saat
masih kecil. Entah sudah berapa banyak malam yang kita habiskan untuk bertengkar hanya
karena masalah yang sepele.
Aku masih ingat, saat pulang sekolah dulu. Ibu sudah
menjemput, dan kau malah asik bermain entah kemana. Sampai aku dibuat pusing
dan kesal mencarimu. Eh, ternyata kau malah bermain ke sungai dekat sekolah.
Aku masih ingat, betapa ibu sangat murka ketika mendapat
laporan tentang kenakalanmu di sekolah. Ibu
buang semua bukumu, berniat untuk membakar semuanya. Kau hanya diam. Aku dan
kakak yang menghalangi. Hanya beberapa bukumu yang bisa terselamatkan.
Aku masih ingat, saat ibu mengemasi pakaian-pakaianmu. Berniat
membawamu ke panti asuhan, sebagai balasan dari kenalan yang kau buat. Ibu membawamu
pergi. Namun selang beberapa jam kemudian, kau kembali ke rumah bersama ibu
dengan sembab dimatamu.
Aku masih ingat, saat mulutmu mengeluarkan kata-kata kasar,
yang tak seharusnya diucapkan oleh anak seumurmu kepada orang yang lebih tua.
Ibu kembali murka kepadamu. Entah bagaimana, beberapa saat setelah itu, kau menjadi kesusahan membaca ta'awudz dan basmalah.
Alamak, nakal sekali kau ini?
Tapi itu masa lalumu. Lihat dirimu sekarang. Bahkan tinggi
badanmu sudah jauh melebihi tinggi badanku. Ukuran sepatumu sudah terlampau
besar dari ukuran sepatuku. Hei, bahkan jakunmu sudah muncul! Kau
benar-benar sudah tumbuh besar sekarang.
Kini kau tahu, bahwa kau bisa jika kau mau. Bahkan tahun
ajaran yang lalu kau bisa menduduki peringkat satu, bukan? Bahkan piala
kejuaraan di ruang tamu itu, akhirnya kau miliki juga, bukan? Bahkan sekolah
menunjukmu untuk menjadi perwakilan dalam seminar nasional tempo lalu. Lihat dirimu.
Betapa hebatnya dirimu sekarang. Kami semua bangga padamu! Dan aku lebih bangga
padamu.
Tapi terkadang aku sedih, karena kau jarang mengeluh. Aku
sedih, ketika kau mulai menutupi masalah-masalahmu, membiarkanku bertanya-tanya tanpa kunjung mendapat cerita darimu. Aku sedih, karena kau
sering memendam semuanya. Aku sedih, saat kau menutup mintu kamarmu, berbicara
sendiri seakan sedang mengutuk sesuatu. Aku lebih sedih, karena aku tidak bisa
menjadi bahumu. Ya, dulu aku sangat sedih karena itu..
Kau tau? Disisa waktuku sebelum aku benar-benar tidak tinggal
satu atap denganmu, aku merasa sangat bahagia. Bukan, bukan karena aku bahagia
tidak tinggal bersamamu lagi. Aku bahagia, karena saat itu kau mulai membagi
ceritamu denganku. Kau mulai bercerita tentang orang yang kau sukai di kelas. Ah, siapa namanya? Banyak sekali, aku sampai lupa. kau juga ceritakan
aktifitasmu disekolah. Dan kini, saat kita benar-benar terpisahkan oleh jarak,
kau bahkan bersedia menelponku. Bercerita banyak hal padaku. Kau juga dengan
senang hati mendengar ceritaku. Bahkan terkadang nasehatmu lebih dewasa
daripada aku. Ah, senang sekali rasanya. Apakah kau juga begitu?
Aku harap, kita akan seperti ini selamanya. Saling berbagi
dan mengasihi. Memikul beban kita bersama. Menguatkan ketika mulai merasa
lemah. Mendorong ketika ingin berputus asa. Tersenyum bersama ketika
kebahagiaan menyapa.
Aku bahagia memilikimu. Apakah kau juga begitu, adikku?
Comments
Post a Comment