Skip to main content

#Day2: “Jangan bilang sapa-sapa ya!”

“Jangan bilang siapa-siapa ya!”

Pernah dengar kalimat ini? Atau bahkan pernah mengucapkannya? Saya memang belum pernah melakukan riset yang akurat tentang ini. Tapi berdasarkan dari fenomenologi yang saya punya, saya percaya bahwa hampir semua orang pasti pernah mendengar atau mengucapkan kalimat ini. Ingat dimana kalimat ini sering digunakan, kan? 

Seringkali seseorang tidak tahan untuk memendam ceritanya sendiri. Merasa butuh untuk membaginya dengan orang lain dengan alasan untuk meringankan bebannya atau alasan-alasan lainnya. Menceritakan ‘rahasia’nya kepada orang lain dengan penuh percaya bahwa dia akan menjaga ‘rahasia’nya itu. Dengan tak lupa menambahkan bumbu “jangan bilang siapa-siapa ya!” di awal ceritanya.

Ada juga seseorang merasa ingin sekali mengetahui sesuatu yang membuatnya penasaran. Merasa hal itu sangat penting atau memang dibuat solah-olah penting baginya.  Bertanya kesana-kemari bak paparazi. Sampai akhirnya menemukan informan yang dirasa tepat dan mulai bertukar informasi dengan ijab “tapi jangan bilang siapa-siapa ya!” dan qobul “iya, beres!”.

Saya pernah mengalami hal semacam itu. Dan saya yakin kamu juga pasti pernah mengalaminya. Yakin bahwa rahasia itu akan aman, tidak akan bocor. Tapi siapa sangka bahwa kenyataannya sebaliknya? Orang yang kamu ceritakan itu bukan tidak mungkin akan menceritakannya kepada orang lain dengan melakukan ijab-qobul seperti yang kamu lakukan dengannya. Dan bukan tidak mungkin ceritamu itu akan menjadi ghibah berantai yang akhirnya tidak hanya satu orang yang tahu. Atau malah akhirnya kamu mendengar ceritamu sendiri dari orang lain? ah.. itu lebih mengenaskan.

Bukan masalah jika isi ghibah berantai itu berupa kabaikan. Tapi jelas menjadi masalah jika itu berupa keburukan. Sama halnya dengan kita mengumbar aib orang lain. Siapa yang suka aibnya diumbar? Iya, bukan?

Jadi saran saya, kalau memang benar-benar itu menjadi rahasia yang tidak ingin orang lain tahu, ada baiknya disimpan saja sendiri. Atau bolehlah diceritakan kepada orang yang benar-benar terpercaya. Dan kalau orang lain sudah percaya kepada kita, ada baiknya kita jaga kepercayaan itu. The human mind an only maintain complete trust once for each person. Once broken, it’s never the same. Bagaimana? Sepakat ya? J


Comments

Popular posts from this blog

Tentang Ekspektasi

21 tahun aku hidup. Dan nggak ada satu tahun pun terlewatkan tanpa Tuhan kasih pelajaran berharga buat aku. Bisa lewat sesuatu yang menyenangkan, bisa juga yang bikin sedih dan capek, like, “God, enough..” Tapi nyatanya Tuhan nggak pernah berhenti kasih pelajaran. Adaa aja sesuatu yang unpredictable yang Tuhan kasih. Suka becanda emang. Tapi ya balik lagi. Toh pada akhirnya selalu ada hal baik yang bisa dipetik. Dan kali ini, Tuhan banyak ngajarin (kali ini dengan mendalam) tentang ekspektasi. Bukan kata yang asing buat aku. Sering digunakan, tapi nggak pernah dapetin maknanya sampe sedalem ini.   Ber-ekspektasi, sesuatu yang seringkali kita ga sadar ngelakuinnya. Beruntung kalau sebanding dengan realita, sangat berpotensi bikin kecewa kalau yang terjadi justru sebaliknya. Aku pernah mempersoalkan apa yang Tuhan berikan dalam hidupku. Atau bisa jadi sering. Jelas aku punya ekspektasi yang baik untuk hidupku. Aku pengen nilai ku selalu bagus, semua kegiatanku lancar, semua o...

Listening to..

You were a call that i couldn't put down you stayed in my mind late into the night my dark passenger - Daniela Andrade