“Jangan bilang siapa-siapa ya!”
Pernah dengar kalimat ini? Atau bahkan pernah
mengucapkannya? Saya memang belum pernah melakukan riset yang akurat tentang
ini. Tapi berdasarkan dari fenomenologi yang saya punya, saya percaya bahwa
hampir semua orang pasti pernah mendengar atau mengucapkan kalimat ini. Ingat
dimana kalimat ini sering digunakan, kan?
Seringkali seseorang tidak tahan untuk memendam ceritanya
sendiri. Merasa butuh untuk membaginya dengan orang lain dengan alasan untuk
meringankan bebannya atau alasan-alasan lainnya. Menceritakan ‘rahasia’nya
kepada orang lain dengan penuh percaya bahwa dia akan menjaga ‘rahasia’nya itu.
Dengan tak lupa menambahkan bumbu “jangan bilang siapa-siapa ya!” di awal
ceritanya.
Ada juga seseorang merasa ingin sekali mengetahui sesuatu
yang membuatnya penasaran. Merasa hal itu sangat penting atau memang dibuat
solah-olah penting baginya. Bertanya kesana-kemari
bak paparazi. Sampai akhirnya menemukan informan yang dirasa tepat dan mulai
bertukar informasi dengan ijab “tapi jangan bilang siapa-siapa ya!” dan qobul “iya,
beres!”.
Saya pernah mengalami hal semacam itu. Dan saya yakin kamu
juga pasti pernah mengalaminya. Yakin bahwa rahasia itu akan aman, tidak akan
bocor. Tapi siapa sangka bahwa kenyataannya sebaliknya? Orang yang kamu
ceritakan itu bukan tidak mungkin akan menceritakannya kepada orang lain dengan
melakukan ijab-qobul seperti yang kamu lakukan dengannya. Dan bukan tidak
mungkin ceritamu itu akan menjadi ghibah berantai yang akhirnya tidak hanya satu
orang yang tahu. Atau malah akhirnya kamu mendengar ceritamu sendiri dari orang
lain? ah.. itu lebih mengenaskan.
Bukan masalah jika isi ghibah berantai itu berupa kabaikan. Tapi
jelas menjadi masalah jika itu berupa keburukan. Sama halnya dengan kita
mengumbar aib orang lain. Siapa yang suka aibnya diumbar? Iya, bukan?
Jadi saran saya, kalau memang benar-benar itu menjadi
rahasia yang tidak ingin orang lain tahu, ada baiknya disimpan saja sendiri. Atau
bolehlah diceritakan kepada orang yang benar-benar terpercaya. Dan kalau orang
lain sudah percaya kepada kita, ada baiknya kita jaga kepercayaan itu. The human
mind an only maintain complete trust once for each person. Once broken, it’s
never the same. Bagaimana? Sepakat ya? J
Comments
Post a Comment