Skip to main content

#Day3: Dibalik Ceriamu..

Ini bukan kali pertama ia melaksanakan sholat isha disini. Imam sudah menyerukan salam rakat terakhir. Tetapi ia harus menambah 2 rakaat lagi untuk menyempurnakan sholatnya. Selesai dua rakaat, ia menyempatkan untuk berdoa. Sore tadi ia mendapat berita yang kurang mengenakkan hatinya. Dengan khusyu' ia berdoa, mencurahkan seluruh penatnya hari ini. Selesai berdoa, ia menoleh teman disampingnya, bermaksud untuk mengajaknya bersalaman. rupanya gadis itu masih berdoa.  Ia urungkan niatnya, menunggu temannya selesai mengadu dalam doa. 

Sudah sejak dua tahun yang lalu ia berteman dengan gadis itu. Baginya, dia adalah orang yang selalu ceria, kapanpun, dimanapun. tidak pernah ia melihat gadis itu bersedih. Seolah tidak pernah ada masalah yang berarti di hidupnya, tidak seperti apa yang ia rasakan sekarang. 

Selang beberapa waktu ia menunggu, gadis itu akhirnya menyudahi doanya. Buru-buru ia mengajaknya bersalaman. Namun tidak seperti biasanya, kali ini ada pemandangan aneh yang ia lihat dari mata gadis itu. Bulu matanya basah, putih matanya memerah. 

"Kamu nangis?" tanyanya seketika. 

"Nggak kok, aku nggak papa." jawab gadis itu dengan membuang muka. Seolah ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan. 

"Kamu kenapa?" tanyanya lagi kepada gadis itu, merasa tidak percaya dengan jawaban sebelumnya. 

"Aku nggak papa.." jawabnya lirih, sembari sibuk mengalihkan pandangan. 

Dipandangnya gadis itu sungguh-sungguh. Berusaha menerka-nerka apa yang sedang disembunyikannya. Ini adalah kali pertama ia dapati gadis itu bersedih. Matanya semakin terlihat sendu, hingga akhirnya meneteskan air mata juga. Kali ini ia tak berani bertanya lagi. Ia biarkan gadis itu melanjutkan tangisnya. Sambil sesekali ia melihat gadis itu sibuk menghapus air mata di pipinya, seolah tidak ingin ada orang yang melihatnya. Tangisnya masih tertahan.

Tanpa berpikir panjang, ia peluk gadis itu. Ia dekap dengan erat. Tubuh gadis itu bergetar. Tangisnya pecah. Terdengar sendu ditelinganya. Ia terdiam. masih memeluk tubuh gadis itu dengan erat, berusaha menguatkannya. 

1 menit..

5 menit..

8 menit..

Gadis itu mulai tenang. Napasnya mulai sedikit teratur. Perlahan ia lepaskan pelukannya. Ia pandangi lagi wajah gadis itu. 

"Maaf ya, aku cengeng. maaf ya.." kata gadis itu padanya.

Kesedihan seperti apa yang mampu membuat gadis yang selalu ceria ini menangis tersedu, hingga ia enggan membagi kesedihannya pada orang lain?

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Ekspektasi

21 tahun aku hidup. Dan nggak ada satu tahun pun terlewatkan tanpa Tuhan kasih pelajaran berharga buat aku. Bisa lewat sesuatu yang menyenangkan, bisa juga yang bikin sedih dan capek, like, “God, enough..” Tapi nyatanya Tuhan nggak pernah berhenti kasih pelajaran. Adaa aja sesuatu yang unpredictable yang Tuhan kasih. Suka becanda emang. Tapi ya balik lagi. Toh pada akhirnya selalu ada hal baik yang bisa dipetik. Dan kali ini, Tuhan banyak ngajarin (kali ini dengan mendalam) tentang ekspektasi. Bukan kata yang asing buat aku. Sering digunakan, tapi nggak pernah dapetin maknanya sampe sedalem ini.   Ber-ekspektasi, sesuatu yang seringkali kita ga sadar ngelakuinnya. Beruntung kalau sebanding dengan realita, sangat berpotensi bikin kecewa kalau yang terjadi justru sebaliknya. Aku pernah mempersoalkan apa yang Tuhan berikan dalam hidupku. Atau bisa jadi sering. Jelas aku punya ekspektasi yang baik untuk hidupku. Aku pengen nilai ku selalu bagus, semua kegiatanku lancar, semua o...

Listening to..

You were a call that i couldn't put down you stayed in my mind late into the night my dark passenger - Daniela Andrade