Skip to main content

#Day7: Pelajaran dari Kisah Alegi Sang Singo Barong

Salah satu alasan kenapa aku cinta jogja adalah karena seninya. Adalah suatu kenikmatan bisa nonton pertinjukan seni secara cuma-cuma alias gratis! Seperti malam nan menyenangkan ini. saya ucapkan terimakasih banyak kepada temen-temen dari FIB yang malam ini menyelenggarakan acara super keren di penutupan Etnika Fest 2015: Alegi Sang Singo Barong.

Ada beberapa alasan yang bikin aku bersemangat lihat acara ini: 1. Aku suka lihat pertunjukan seni. Sangat suka sekali. 2. Emang udah janji mau lihat Gista (pemeran Sanggalangit) sama Bayu (pemeran tikus). 3. Pengen hunting foto (?). Akhir-akhir ini passion fotografiku semakin meluap-luap. Pengen belajar terus. Biar bisa mengalahkan si master (?). Doakan semoga Allah berbaik hati memberiku rejeki berupa kamera canon 1D (tolong diaminin).

Sampai di TBY, tempat acara ini diselenggarakan, aku dan si Tasha buru-buru cari spot yang mantab untuk bisa memotret. Setelah beberapa kali sempat diusir karena menduduki kursi tamu, akhirnya kita berdua dapat tempat di kursi kedua, pojok, sebelah kiri. Spot yang lumayan bagus untuk membidik foto. Sebelum acara dimulai, aku mulai menyiapkan kamera pinjaman. Dan seketika aku badmood karena SD card 16 GB nya ketinggalan di tas. Aku badmood. Beneran. Akhirnya aku pakai SD card 8 GB yang ternyata isinya full. Terpaksa aku harus pilih-pilih lagi foto yang mana yang dirasa perlu direlakan untuk dihapus. Tidak lama kemudian, acara dimulai. Wajahku sudah mulai antusias.

Jadi, pementasan berjudul Alegi Sang Singo ini menceritakan tentang asal mula Reog Ponorogo. Diceritakan pada masa itu, hiduplah seorang anak raja Kerajaan Kediri yang sangat cantik jelita bernama Sanggalangit. Singkat cerita, Kerajaan Kediri membuat sayembara untuk mencari suami bagi Sanggalangit. Sampai akhirnya Singo barong dan Prabu Kelana Sewandana harus berperang untuk memperebutkan sang dewi. Di perang itu, Singo Barong kalah, dan menjelma menjadi hewan berkepala 2 (Reog) demi keinginan sang Dewi. Hal itu ia lakukan karena cintanya yang tulus kepada Sanggalangit, ia rela melakukan apapun demi dirinya.

Dari pertunjukan ini, aku sadar akan satu hal. Satu hal yang sangat mengena dihatiku, atau juga mungkin dihatimu. Bahwa tingkat tertinggi mencintai adalah merelakan. Terkadang kita memang harus  memilih jalan untuk merelakan demi kebahagiaan orang yang kita cintai. Sedih ya?

Selamat malam, jangan baper J


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tentang Ekspektasi

21 tahun aku hidup. Dan nggak ada satu tahun pun terlewatkan tanpa Tuhan kasih pelajaran berharga buat aku. Bisa lewat sesuatu yang menyenangkan, bisa juga yang bikin sedih dan capek, like, “God, enough..” Tapi nyatanya Tuhan nggak pernah berhenti kasih pelajaran. Adaa aja sesuatu yang unpredictable yang Tuhan kasih. Suka becanda emang. Tapi ya balik lagi. Toh pada akhirnya selalu ada hal baik yang bisa dipetik. Dan kali ini, Tuhan banyak ngajarin (kali ini dengan mendalam) tentang ekspektasi. Bukan kata yang asing buat aku. Sering digunakan, tapi nggak pernah dapetin maknanya sampe sedalem ini.   Ber-ekspektasi, sesuatu yang seringkali kita ga sadar ngelakuinnya. Beruntung kalau sebanding dengan realita, sangat berpotensi bikin kecewa kalau yang terjadi justru sebaliknya. Aku pernah mempersoalkan apa yang Tuhan berikan dalam hidupku. Atau bisa jadi sering. Jelas aku punya ekspektasi yang baik untuk hidupku. Aku pengen nilai ku selalu bagus, semua kegiatanku lancar, semua o...

Listening to..

You were a call that i couldn't put down you stayed in my mind late into the night my dark passenger - Daniela Andrade